Panitia Khusus (Pansus) Perparkiran DPRD DKI Jakarta menyoroti besarnya biaya operasional pengelolaan parkir di sejumlah lokasi yang berdampak pada kerugian perusahaan pada Selasa (28/4/2026). Dilansir dari Megapolitan, ketimpangan antara tingginya beban biaya dengan pendapatan yang minim terungkap dalam rapat bersama jajaran eksekutif di Gedung DPRD DKI Jakarta.
Data menunjukkan pengelolaan parkir di sebuah hotel kawasan Cikini menghasilkan pendapatan Rp 408 juta per tahun, namun terbebani biaya operasional mencapai Rp 563 juta. Selain itu, pengelolaan parkir di Hotel Mercure juga mencatatkan kerugian sekitar Rp 70 juta per tahun dengan total biaya operasional Rp 299 juta.
Ketua Pansus Perparkiran DPRD DKI Jakarta, Jupiter, menyatakan keterkejutannya atas temuan besarnya pengeluaran operasional tahunan yang tidak sebanding dengan pemasukan tersebut.
ÔÇ£Artinya ini rugi Rp 155 juta per tahun. Nah ini yang jadi pertanyaan, kenapa bisa sampai rugi sebesar itu,ÔÇØ ujar Jupiter, Selasa.
Legislator tersebut menilai skema penggunaan tenaga kerja perlu dikaji ulang mengingat biaya untuk pembayaran petugas parkir mencapai Rp 47 juta per bulan. Jupiter menekankan perlunya efisiensi pada lokasi-lokasi yang hanya memiliki gerbang parkir terbatas.
ÔÇ£Dengan jumlah gate yang terbatas, ini harusnya bisa lebih efisien. Jangan sampai biaya besar tapi malah merugi,ÔÇØ katanya.
Kritik juga diarahkan pada peran anak usaha pengelola parkir yang dianggap belum optimal dalam memberikan profit bagi perusahaan induk.
ÔÇ£Anak perusahaan itu dibentuk yang seharusnya bisa memberikan kontribusi kepada sarana jaya, bahwa anak perusahaan ini bisa menopang dan bisa memberikan potensi yang sangat luar biasa,ÔÇØ kata Jupiter.
Pihak legislatif juga menuntut transparansi data melalui sistem elektronik agar integrasi pelaporan pendapatan tidak lagi dilakukan secara manual guna mencegah potensi kebocoran.
ÔÇ£Harus real-time dan terintegrasi, supaya transparan dan tidak ada manipulasi data,ÔÇØ kata Jupiter.
Menanggapi sorotan tersebut, Direktur Utama Perumda Pembangunan Sarana Jaya, Bernard Yohanes, memberikan penjelasan mengenai struktur beban kerja yang masih bersifat padat karya.
ÔÇ£Jadi di Novotel itu kami, hotel itu kan 24 jam ya Pak ya, jadi kita masih labor intensif, kita ada beberapa seat juga yang bekerja di situ, sehingga overhead-nya ini cukup tinggi Pak Ketua,ÔÇØ kata Bernard.
Tingginya biaya dipicu oleh kebutuhan pengaturan kendaraan di lahan yang terbatas serta operasional yang berlangsung penuh selama 24 jam. Pihak PT Saranawisesa Properindo selaku anak usaha menambahkan bahwa jumlah petugas saat ini telah dikurangi menjadi 4 hingga 5 orang dari sebelumnya mencapai 7 orang sebagai langkah efisiensi awal.