DPR Soroti Algoritma E-Commerce yang Tekan Margin Laba UMKM

DPR Soroti Algoritma E-Commerce yang Tekan Margin Laba UMKM
Foto: Ilustrasi DPR Soroti Algoritma E-Commerce yang Tekan Margin Laba UMKM.

Anggota Komisi VI DPR RI Darmadi Durianto mengkritik sistem algoritma platform e-commerce yang dinilai memaksa pelaku usaha mengeluarkan biaya iklan besar demi bertahan pada Sabtu (9/5/2026). Pergeseran sistem ini menyebabkan persaingan tidak lagi berfokus pada kualitas produk melainkan kekuatan modal untuk membayar visibilitas.

Sistem algoritma pada platform seperti Shopee, TikTok Shop, Blibli, dan Lazada kini menjadi penentu utama keterlihatan produk di mata calon pembeli. Dilansir dari Bisnis.com, para penjual menghadapi tekanan biaya tambahan mulai dari potongan komisi, biaya layanan, hingga subsidi promosi agar produk mereka tidak tenggelam.

ÔÇ£Ini bukan opsional, ini dipaksa sistem,ÔÇØ ujar Darmadi, Anggota Komisi VI DPR RI.

Kritik tersebut menyoroti beban kumulatif yang ditanggung penjual yang dapat mencapai 15 hingga 25 persen dari total nilai penjualan. Selain potongan biaya yang besar, pelaku usaha juga menghadapi kendala berupa penahanan saldo hasil penjualan oleh pihak platform serta beban risiko pengembalian barang.

ÔÇ£Ini pay to survive system, bukan yang paling bagus yang menang, tapi yang paling kuat bakar margin,ÔÇØ jelas Darmadi, Anggota Komisi VI DPR RI.

Kondisi ini dianggap sangat menekan pelaku UMKM kecil yang memiliki keterbatasan modal dibandingkan pemain besar. Darmadi menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi digital seharusnya tidak mengorbankan ruang keuntungan yang wajar bagi para penjual kecil demi pertumbuhan teknologi semata.

ÔÇ£Kalau satu sisi ditekan, ini bukan pertumbuhan. Itu eksploitasi yang dibungkus dengan teknologi,ÔÇØ tutup Darmadi, Anggota Komisi VI DPR RI.

Data penguasaan pasar menunjukkan dominasi kuat Shopee di Indonesia dengan pangsa pasar mencapai 54 persen pada 2025. Berdasarkan laporan Momentum Works, nilai transaksi kotor atau GMV platform tersebut diestimasikan menyentuh angka Rp539,7 triliun dari total GMV nasional sebesar Rp999,4 triliun.

Posisi kedua ditempati oleh gabungan TikTok Shop dan Tokopedia yang menguasai 38 persen pangsa pasar dengan estimasi transaksi Rp380 triliun. Sementara itu, Lazada dan Blibli menyusul dengan pangsa pasar masing-masing sebesar 6 persen dan 3 persen pada periode yang sama.

Pangsa Pasar E-Commerce Indonesia Tahun 2025
Platform E-CommercePangsa Pasar (%)Estimasi GMV (Rupiah)
Shopee54%Rp539,7 Triliun
TikTok Shop & Tokopedia38%Rp380 Triliun
Lazada6%Rp60 Triliun
Blibli3%Rp30 Triliun

Secara keseluruhan, Indonesia tetap menjadi pasar e-commerce terbesar di kawasan Asia Tenggara sepanjang tahun 2025. Meskipun volume transaksi terus meningkat secara nasional, efisiensi keuntungan bagi penjual lokal masih menjadi isu utama yang disoroti oleh otoritas legislatif.

Artikel terkait

Rekomendasi