DPR Panggil Gubernur BI dan Menkeu Usai Rupiah Anjlok ke Rp17.500

DPR Panggil Gubernur BI dan Menkeu Usai Rupiah Anjlok ke Rp17.500
Foto: Ilustrasi DPR Panggil Gubernur BI dan Menkeu Usai Rupiah Anjlok ke Rp17.500.

Ketua DPR RI Puan Maharani berencana memanggil Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan untuk merespons pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level terendah sepanjang sejarah di angka Rp17.500 per dolar AS pada Selasa (12/05/2026).

Langkah koordinasi ini bertujuan memastikan pemerintah beserta seluruh pemangku kepentingan terkait melakukan langkah mitigasi yang cepat. Berdasarkan data ekonomi yang dilansir dari Finansial, mata uang Garuda sempat dibuka melemah ke level Rp17.503 per dolar AS pada perdagangan siang hari.

Puan Maharani menegaskan bahwa parlemen menuntut kesiapan otoritas moneter dan fiskal dalam menghadapi tekanan mata uang ini. Penegasan tersebut disampaikan usai memimpin rapat paripurna ke-18 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di Jakarta.

"Ya tentu saja kita akan meminta kepada pemerintah dan stakeholder yang ada untuk mengantisipasi hal tersebut," ujar Puan, Ketua Umum DPR RI.

Legislator dijadwalkan mulai membedah Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) pada agenda persidangan berikutnya. Puan menyoroti bagaimana eskalasi konflik di tingkat global kini telah memberikan dampak nyata yang meluas terhadap stabilitas ekonomi domestik Indonesia.

"Dan pada sidang ke depan ini DPR juga akan masuk dalam pembahasan KEM-PPKF yaitu APBN 2027. Karena itu, itu juga termasuk dalam mengantisipasi APBN dan fiskal yang akan datang," imbuh Puan, Ketua Umum DPR RI.

Kekhawatiran mengenai keterpurukan ekonomi lebih lanjut menjadi alasan utama DPR mendorong pengambilan kebijakan yang presisi. Pemerintah diperingatkan untuk memperhatikan proyeksi jangka panjang agar kondisi fiskal tidak terganggu hingga tahun-tahun mendatang.

"Apa yang akan dilakukan oleh pemerintah termasuk dengan BI, situasi ini jangan sampai pengaruhnya itu nantinya akan membuat Indonesia jadi terpuruk. Jadi harus diantisipasi sejak awal bukan hanya tahun ini tapi juga sampai tahun 2027," pungkas Puan, Ketua Umum DPR RI.

Data dari pasar uang menunjukkan rupiah terus tertekan sejak pembukaan perdagangan hari Selasa (12/5/2026), di mana pada pukul 09.15 WIB kurs sudah berada di posisi Rp17.498. Kondisi ini berbanding terbalik dengan indeks dolar AS yang terus menguat hingga mencapai level 98,11.

Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari tren negatif hari sebelumnya, Senin (11/5/2026), ketika rupiah ditutup di angka Rp17.414. Analisis pasar menunjukkan adanya fluktuasi tajam yang dipicu oleh sentimen eksternal, terutama meningkatnya risiko geopolitik global.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memaparkan bahwa penguatan dolar AS sangat dipengaruhi oleh ketegangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum mereda. Penolakan proposal perdamaian oleh pihak AS memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap keamanan jalur perdagangan di Selat Hormuz.

"Komentar tersebut meningkatkan risiko geopolitik. Fokus pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup sejak konflik dimulai," kata Ibrahim, Direktur PT Traze Andalan Futures.

Artikel terkait

Rekomendasi