DPR dan Danantara Sambangi BEI Tanggapi Pelemahan IHSG

DPR dan Danantara Sambangi BEI Tanggapi Pelemahan IHSG
Foto: Ilustrasi DPR dan Danantara Sambangi BEI Tanggapi Pelemahan IHSG.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bersama jajaran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara menyambangi gedung Bursa Efek Indonesia pada Selasa, 19 Mei 2026, guna membahas langkah menjaga kepercayaan investor di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Ganbungan.

Kunjungan ini dipandang sebagai bentuk dukungan nyata negara terhadap industri pasar modal domestik yang sedang menghadapi tekanan berat. Dilansir dari Media Indonesia, rombongan tersebut disambut langsung oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi beserta jajaran direksi Bursa Efek Indonesia.

Data dari GREAT Institute menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan dibuka pada posisi 6.599 dan sempat merosot ke angka 6.565 di awal sesi. Pada akhir perdagangan, indeks ditutup pada level 6.370 yang berarti mengalami penurunan sebesar 3,46 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Peneliti Ekonomi GREAT Institute Ani Asriyah membantah spekulasi yang mengaitkan penurunan indeks dengan kedatangan perwakilan parlemen dan lembaga investasi negara tersebut. Penurunan harga saham dinilai sudah berlangsung sejak prapembukaan akibat faktor eksternal.

"Pasar sudah berada dalam tekanan bahkan sebelum rombongan tiba di gedung BEI. Karena itu, tidak tepat jika pelemahan IHSG hari ini dikaitkan dengan kunjungan Pak Dasco," ujar Ani Asriyah, Peneliti Ekonomi GREAT Institute.

Pihaknya memaparkan bahwa tiga faktor utama penekan pasar saham meliputi aksi rebalancing indeks global MSCI dan FTSE Russell yang berdampak pada penghapusan sejumlah emiten nasional. Selain itu, indikator makroekonomi ikut melemah dengan depresiasi nilai tukar rupiah hingga melewati Rp17.700 per dolar AS serta munculnya isu regulasi ekspor satu pintu di Kementerian ESDM.

"Kehadiran pimpinan DPR, OJK, dan Danantara di BEI memberi pesan bahwa pemerintah dan otoritas tidak abai terhadap tekanan pasar," kata Ani Asriyah, Peneliti Ekonomi GREAT Institute.

Kondisi fundamental ekonomi nasional sendiri dipandang tetap kokoh untuk jangka panjang. Pertumbuhan jumlah investor ritel domestik serta rencana percepatan reformasi regulasi transparansi free float diharapkan mampu mengembalikan daya saing pasar modal Indonesia di mata pelaku pasar global.

Artikel terkait

Rekomendasi