Dolar AS Bergerak Stabil Setelah Penundaan Rencana Serangan ke Iran

Dolar AS Bergerak Stabil Setelah Penundaan Rencana Serangan ke Iran
Foto: Ilustrasi Dolar AS Bergerak Stabil Setelah Penundaan Rencana Serangan ke Iran.

Nilai tukar dolar Amerika Serikat bergerak stabil pada awal perdagangan di Asia hari Selasa, 19 Mei 2026, menyusul keputusan Presiden Donald Trump menunda rencana aksi militer terhadap Iran guna membuka ruang bagi proses negosiasi.

Penguatan mata uang Negeri Paman Sam tersebut juga mendapat sokongan dari situasi pasar obligasi global yang mulai tenang setelah sempat dilanda aksi jual selama dua hari berturut-turut, seperti dilansir dari Internasional.

Berdasarkan data dari Internasional, indeks dolar AS yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia bertahan pada posisi 99,026 setelah melemah 0,3 persen pada hari Senin, 18 Mei 2026.

Perbaikan sentimen pasar ini terjadi setelah munculnya laporan mengenai pembatalan serangan militer ke Iran oleh Trump yang merespons permintaan dari para pemimpin negara di kawasan Teluk Persia.

"Sentimen stabil setelah laporan bahwa Presiden AS membatalkan rencana serangan terhadap Iran setelah adanya permintaan dari para pemimpin kawasan Teluk," tulis analis Westpac.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mengalami penurunan sebesar 3 basis poin ke level 4,591 persen, meredakan kecemasan pasar atas potensi lonjakan inflasi jangka panjang.

Meredanya ketegangan geopolitik turut berimbas pada komoditas energi, di mana harga minyak mentah Brent merosot 2,4 persen ke posisi 109,43 dolar AS per barel.

Saat ini pelaku pasar memperhitungkan peluang sebesar 36,2 persen bagi bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan Desember mendatang demi meredam tekanan inflasi pasokan energi, menurut data CME FedWatch Tool.

Sementara itu, dolar AS bergerak stagnan di level 158,895 yen menyusul rilis data pertumbuhan ekonomi Jepang kuartal I-2026 sebesar 2,1 persen secara tahunan yang melampaui estimasi pasar di angka 1,7 persen.

Pemerintah Jepang menyatakan kesiapannya untuk melakukan langkah intervensi pasar guna meredam pergerakan volatilitas mata uang domestik mereka jika situasi dinilai mendesak.

"Namun, intervensi tetap akan dilakukan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap pasar obligasi AS," kata Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama.

Berdasarkan data bank sentral Jepang, Tokyo diperkirakan telah mengalokasikan hampir 10 triliun yen atau setara 63 miliar dolar AS untuk melakukan intervensi pasar mata uang sejak tanggal 30 April lalu.

Pada pasar mata uang lainnya, euro tercatat stabil pada level 1,1650 dolar AS, sedangkan poundsterling Inggris melemah 0,1 persen ke posisi 1,3427 dolar AS.

Penurunan sebesar 0,1 persen juga dialami oleh dolar Australia ke level 0,7164 dolar AS dan dolar Selandia Baru yang melemah ke posisi 0,5868 dolar AS, sementara dolar AS terhadap yuan China offshore bergerak stabil di level 6,798 yuan.

Artikel terkait

Rekomendasi