Mata uang rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level Rp 16.643 pada perdagangan Kamis (4/12/2025) pagi. Penurunan ini dipicu oleh dominasi dolar AS terhadap mayoritas mata uang global di tengah penantian pasar terhadap keputusan suku bunga bank sentral AS.
Dilansir dari Investortrust, pelemahan rupiah tercatat sebesar 15 poin atau 0,09 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan penguatan indeks dolar AS yang berada di level 99, yang turut memberikan tekanan bagi mata uang di kawasan Asia dan negara berkembang lainnya.
Selain rupiah, pelemahan signifikan terjadi pada sejumlah mata uang utama dunia seperti euro Uni Eropa yang turun 0,12 persen dan poundsterling Britania Raya sebesar 0,16 persen. Di pasar regional Asia, dolar AS tercatat menguat terhadap peso Filipina sebesar 0,39 persen, rupee India 0,36 persen, dan baht Thailand 0,2 persen.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menjelaskan bahwa pergerakan dolar AS ini dipengaruhi oleh meningkatnya ekspektasi pasar mengenai penurunan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) pada pekan mendatang. Sentimen ini muncul setelah data payroll sektor swasta AS mengalami penurunan sebanyak 32.000.
"Ini mendorong peluang pemangkasan suku bunga The Fed menjadi hampir pasti. Dalam perdagangan setelah jam bursa, investor menunggu laporan laba dari Dollar General, DocuSign, HP, dan beberapa perusahaan lain," kata Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri.
Perubahan struktur kepemimpinan di bank sentral AS juga menjadi sorotan utama pelaku pasar saat ini. Terdapat sinyal kuat mengenai transisi jabatan Ketua The Fed dari Jerome Powell kepada penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hasset, yang memperkuat proyeksi kebijakan moneter yang lebih longgar.
"Selain itu, awal Desember secara resmi menandai berakhirnya program pengetatan kuantitatif The Fed, namun primary dealers memberikan sinyal ekspektasi bahwa the Fed mungkin akan meningkatkan pembelian surat utang jangka pendek," ujar Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri.
Penguatan dolar AS ini juga berimbas pada depresiasi dolar Singapura sebesar 0,19 persen, yen Jepang 0,15 persen, serta ringgit Malaysia yang tertekan 0,11 persen. Di sisi lain, yuan China turut mengalami pelemahan sebesar 0,08 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut.