Dolar AS Menguat Usai Donald Trump Tunda Serangan ke Iran

Dolar AS Menguat Usai Donald Trump Tunda Serangan ke Iran
Foto: Ilustrasi Dolar AS Menguat Usai Donald Trump Tunda Serangan ke Iran.

Nilai tukar dolar Amerika Serikat mengalami penguatan dalam perdagangan Asia pada Selasa (19/5/2026) setelah pelaku pasar mencerna keputusan Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran demi membuka ruang negosiasi, seperti dilansir dari Internasional.

Kenaikan mata uang greenback ini terjadi seiring dengan meredanya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Indeks dolar AS tercatat naik 0,1 persen ke level 99,076 setelah sempat menghentikan reli lima hari berturut-turut pada perdagangan sebelumnya.

Analis pasar IG di Sydney, Tony Sycamore, menilai bahwa pergerakan ini merupakan bentuk koreksi dari reaksi pasar yang sempat berlebihan terhadap situasi geopolitik global.

"Reaksi berlebihan pasar mulai dikoreksi kembali seiring munculnya perkembangan berita yang kita lihat semalam," ujar Tony Sycamore.

Menurut pengamatan Tony Sycamore, para pelaku pasar saat ini sudah terbiasa dengan pola ketegangan yang meningkat pada akhir pekan namun diikuti oleh optimisme diplomasi di awal pekan berikutnya.

Meredanya tensi geopolitik ini turut memberikan dampak negatif terhadap harga minyak mentah dunia, di mana kontrak berjangka Brent merosot 2 persen ke level US$109,84 per barel. Penurunan harga komoditas ini meredakan kekhawatiran inflasi global sehingga imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 2,4 basis poin menjadi 4,5974 persen.

Berdasarkan data alat FedWatch milik CME Group, kontrak berjangka Fed Funds kini mencerminkan peluang sebesar 37,4 persen bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang. Sementara terhadap mata uang global lainnya, dolar AS menguat 0,1 persen menjadi 158,95 yen Jepang, meskipun data menunjukkan ekonomi Jepang tumbuh 2,1 persen pada kuartal pertama 2026.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama merespons pergerakan ini dengan menyatakan bahwa pemerintah siap mengambil tindakan untuk mengatasi volatilitas nilai tukar yang berlebihan, meskipun intervensi untuk mendukung yen tetap akan mempertimbangkan dampaknya terhadap pasar obligasi AS.

Di belahan dunia lain, dolar Australia mengalami penurunan 0,5 persen menjadi US$0,71345 setelah risalah rapat Reserve Bank of Australia menunjukkan bank sentral menilai suku bunga saat ini sudah cukup ketat setelah tiga kali kenaikan sepanjang tahun ini. Langkah ini diikuti pelemahan dolar Selandia Baru sebesar 0,4 persen ke level US$0,5854, euro melemah 0,1 persen menjadi US$1,1644, dan poundsterling Inggris turun 0,2 persen menjadi US$1,3411.

Artikel terkait

Rekomendasi