Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menemukan belasan anak yang pernah menitipkan diri di daycare Little Aresha mengalami penyimpangan perkembangan. Kondisi kesehatan ratusan anak tersebut terungkap setelah otoritas kesehatan setempat melakukan skrining tumbuh kembang anak secara massal.
Pemeriksaan klinis ini dilakukan oleh psikolog klinis guna mencocokkan kesesuaian usia anak dengan pedoman Stimulasi, Deteksi, Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK), seperti dilansir dari Detik Health. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya puluhan anak yang masuk kategori tidak normal dan meragukan.
"Hasilnya ini 12 anak mengalami penyimpangan perkembangan, 19 anak berada dalam kategori meragukan, dan 122 anak berada dalam kondisi perkembangan normal," terang Aan dalam konferensi pers di Balai Kota Yogyakarta, Selasa (19/5/2026), dikutip dari detikJogja.
Kepala Bidang Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Aan Iswanti, menjelaskan bahwa anak-anak yang terindikasi mengalami gangguan perkembangan langsung dirujuk ke puskesmas. Langkah ini diambil agar para korban mendapatkan pemeriksaan lanjutan secara menyeluruh.
"Memang penyimpangan itu ada beberapa kategori, mulai dari yang speech delay atau keterlambatan bicara," ucap Aan.
Pihak Dinas Kesehatan mengidentifikasi beberapa jenis gangguan perkembangan yang dialami oleh anak-anak tersebut. Beberapa di antaranya menunjukkan gejala yang memerlukan perhatian medis khusus.
"Kemudian gejala ke arah autis, ADHD itu tadi banyak gerak, jadi lebih hiperaktif gitu dibanding dengan teman sebayanya atau seusianya, sehingga ini yang perlu dirujuk," sambungnya.
Selain pemeriksaan psikologis, nutrisionis juga melakukan pengukuran antropometri untuk memantau status gizi anak-anak eks daycare Little Aresha tersebut. Dari total 149 anak yang diperiksa status pertumbuhannya, ditemukan belasan anak memiliki masalah berat badan.
"Jadi, ini tidak bisa disebut sebagai gizi buruk ya, jadi sangat jauh berbeda. Ini baru suatu kondisi tahap awal dari kekurangan gizi pada anak balita," tutur Aan.
Aan menambahkan bahwa sebagian anak yang kekurangan gizi secara fisik tidak memperlihatkan tanda-tanda klinis yang jelas. Namun, standar antropometri yang digunakan berhasil mendeteksi adanya ketidaksesuaian berat badan dan kualitas gizi mereka.
"Kalau kita lihat secara fisik bahkan ada yang tidak tampak kekurangannya, tapi karena kita melaksanakan pengukuran tumbuh kembang ini berdasarkan standarnya, antropometri, sehingga bisa diketahui ada beberapa anak berat badannya kurang dan gizi kurang," tambahnya.
Hingga saat ini, baru separuh dari total 18 anak yang dirujuk ke Puskesmas telah memenuhi panggilan pemeriksaan. Sisanya diduga masih menyelesaikan rangkaian evaluasi psikologis mereka.
"Jadi, kalau misalnya pada saat dilaksanakan di Puskesmas dibutuhkan untuk rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya rumah sakit, sudah disiapkan Rumah Sakit Pratama, RSUD Kota Yogyakarta, dan apabila ternyata dibutuhkan rujukan yang lebih tinggi lagi, RSUP Dr Sardjito juga sudah siap," tegas Aan.
Dinkes Kota Yogyakarta memastikan proses pendampingan medis akan terus berjalan hingga tingkat rujukan lanjutan teratas. Koordinasi intensif mengenai penyediaan psikolog dan dokter spesialis anak juga telah dilakukan dengan pihak rumah sakit tujuan.
"Kita sudah melaksanakan koordinasi dengan rumah sakit tersebut, khususnya untuk psikolog dan juga untuk dokter anaknya. Jadi, Insya Allah kalau memang dibutuhkan rujukan yang lebih tinggi sudah siap dilayani," pungkasnya.