Dinas Kesehatan DKI Jakarta memperingatkan warga mengenai peningkatan risiko berbagai gangguan kesehatan akibat fenomena cuaca ekstrem El Nino Godzilla yang diprediksi melanda ibu kota mulai April hingga Oktober 2026. Ancaman penyakit tersebut mencakup gangguan pernapasan, masalah kulit, hingga dehidrasi berat.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyatakan bahwa kenaikan suhu yang sangat ekstrem dan penurunan kualitas udara akan terjadi secara bersamaan. Kondisi ini dipicu oleh musim kemarau panjang yang diperparah oleh fenomena iklim tersebut, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
"El Nino ekstrem menyebabkan kenaikan suhu yang signifikan, kekeringan, serta penurunan kualitas udara terjadi secara bersamaan dan saling memperburuk dampak terhadap kesehatan masyarakat," kata Ani Ruspitawati, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta pada Selasa (14/4/2026).
Peningkatan suhu udara yang drastis di Jakarta dilaporkan bakal membebani kerja organ tubuh manusia. Hal ini menimbulkan kerentanan terhadap serangan penyakit kronis maupun kondisi darurat akibat cuaca panas.
"Suhu yang tinggi tidak hanya meningkatkan risiko heatstroke dan dehidrasi, tetapi juga memperberat penyakit kronis seperti jantung dan paru. Pada saat yang sama, kualitas udara yang menurun, termasuk peningkatan partikulat halus, berkontribusi terhadap lonjakan kasus Infeksi Saluran Perpasan Akut (ISPA)," jelas Ani.
Risiko kesehatan ini terutama mengancam kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia (lansia). Selain ISPA, minimnya kelembapan udara dapat menyebabkan kulit menjadi sangat kering dan mudah mengalami iritasi parah.
"Polusi yang meningkat dapat memperburuk asma dan penyakit saluran pernapasan lainnya," ucap Ani.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengimbau warga untuk membatasi aktivitas luar ruangan, terutama pada jam puncak panas antara pukul 11.00 hingga 15.00 WIB. Warga juga diminta mengenakan masker, menggunakan pelindung tabir surya, dan menjaga kecukupan cairan tubuh.
"Pastikan untuk banyak minum air yang cukup untuk menghindari dehidrasi. Kami juga menyarankan warga menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi paparan polusi udara," kata Ani.
Dinkes menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung tambahan seperti topi dan payung bagi warga yang terpaksa beraktivitas di bawah paparan sinar matahari langsung. Pemantauan terhadap peringatan dini dari lembaga berwenang juga menjadi langkah antisipasi utama.
"Terakhir warga juga harus mengikuti informasi perkembangqn cuaca dan peringatan dini dari BMKG untuk mengetahui kondisi cuaca terkini di wilayah masing-masing," kata Ani.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan El Nino kuat ini akan berpadu dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kombinasi dua fenomena ini berpotensi memicu kekeringan parah, berkurangnya ketersediaan air bersih, hingga risiko kebakaran hutan di wilayah selatan Indonesia.