Orang Tua di Jakarta Pilih Daycare demi Stabilitas Ekonomi Keluarga

Orang Tua di Jakarta Pilih Daycare demi Stabilitas Ekonomi Keluarga
Foto: Ilustrasi Orang Tua di Jakarta Pilih Daycare demi Stabilitas Ekonomi Keluarga.

Sejumlah orang tua yang bekerja di wilayah Jakarta dan sekitarnya memilih jasa penitipan anak atau daycare sebagai solusi untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga pada Senin (20/4/2026). Keputusan ini diambil karena keterbatasan dukungan keluarga besar di kota besar serta kebutuhan untuk mempertahankan pendapatan ganda.

Kebutuhan akan layanan pengasuhan anak yang aman meningkat seiring dengan ritme hidup perkotaan yang cepat, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Bagi banyak keluarga, daycare bukan lagi sekadar opsi tambahan, melainkan sarana pendukung utama agar orang tua tetap bisa menjalankan peran profesional mereka.

Melani, seorang pekerja asal Depok berusia 33 tahun, sempat menolak gagasan menitipkan anak karena pandangan ideal mengenai peran ibu. Namun, tekanan finansial dan ketiadaan dana darurat memaksanya untuk tetap bekerja demi menopang kebutuhan keluarga bersama suaminya.

"Awalnya saya menolak. Dalam kepala saya, anak itu harus sama ibunya. Saya dulu berpikir, kalau anak dititipkan daycare, berarti ibunya nggak ngurus," kata Melani, warga Depok.

Meskipun akhirnya memilih daycare, Melani mengaku tetap dihantui kekhawatiran mengenai kualitas pengasuhan dan keamanan anaknya di luar rumah. Ia sering merasa cemas anak akan mendapatkan perlakuan buruk selama ia berada di kantor.

"Kalau saya resign, kita masih bisa hidup dari gaji suami, tapi akan berat banget. Tidak ada tabungan, tidak ada dana darurat. Kalau anak sakit, langsung kelimpungan," ujar Melani.

Ia menegaskan bahwa pilihan ini diambil sebagai strategi untuk bertahan hidup di tengah kerasnya tuntutan ekonomi perkotaan. Perasaan dilematis tetap muncul meskipun ia telah melakukan survei mendalam terhadap fasilitas daycare tersebut.

"Saya sadar daycare itu bukan soal mau atau enggak. Tapi soal bertahan," kata Melani.

Ketakutan akan kekerasan atau pengasuhan yang tidak layak menjadi beban pikiran utama bagi orang tua sebelum akhirnya benar-benar menitipkan anak mereka. Melani bahkan mengaku mengalami kondisi emosional yang berat pada hari pertama proses penitipan.

"Takut banget. Saya sampai overthinking. Takut anak dicubit, anak dibentak, anak nggak dikasih makan," ujar Melani.

Setelah menitipkan anaknya, ia merasakan konflik batin karena konsentrasinya terpecah antara pekerjaan dan kondisi buah hatinya di tempat penitipan.

"Badan ada di kantor, tapi pikiran saya di daycare," ujar Melani.

Standar keamanan dan interaksi pengasuh menjadi kriteria utama bagi Melani dan suaminya sebelum menentukan tempat penitipan. Mereka memeriksa rasio pengasuh, kebersihan, hingga keberadaan kamera pengawas atau CCTV.

"Saya juga lihat cara pengasuh ngomong ke anak-anak. Kalau pengasuhnya ngomongnya keras, saya langsung mundur," kata Melani.

Meskipun anak mulai beradaptasi dengan lingkungan baru, perasaan bersalah karena melewatkan waktu tumbuh kembang anak tetap dirasakan oleh orang tua.

"Rasa bersalah karena saya merasa waktu anak saya lebih banyak sama orang lain dibanding sama saya," kata Melani.

Kebutuhan untuk tetap bekerja secara fokus menjadi alasan kuat mengapa layanan ini tetap digunakan meskipun secara emosional memberatkan. Melani merasa tidak memiliki opsi lain jika layanan tersebut tidak tersedia.

"Kalau nggak ada daycare, saya nggak tahu harus gimana. Saya nggak mungkin kerja sambil gendong anak," kata Melani.

Yozar, suami Melani yang berusia 35 tahun, memberikan penegasan singkat mengenai realitas yang dihadapi pasangan pekerja saat ini.

"Setuju. Mau gimana lagi. Kita kerja dua-duanya," kata Yozar, Pekerja asal Depok.

Beban finansial untuk membayar jasa pengasuhan ini juga menjadi catatan tersendiri bagi keluarga muda di Jakarta. Biaya bulanan yang mencapai jutaan rupiah menambah daftar pengeluaran rutin yang harus dipenuhi setiap bulan.

"Kadang saya heran, kita kerja keras tapi kok rasanya nggak ada napas," kata Melani.

Sesa, seorang ibu berusia 34 tahun yang bekerja di Jakarta Timur, juga memandang daycare sebagai pilihan paling realistis di tengah keterbatasan bantuan dari keluarga besar.

"Saya tipe ibu yang merasa, masa sih anak gue dititipin ke orang lain?" kata Sesa, Admin Finance.

Ia mengungkapkan bahwa meskipun mertuanya masih ada, faktor usia membuat mereka tidak sanggup untuk melakukan pengasuhan anak secara intensif setiap hari.

"Daycare itu bukan pilihan ideal, tapi pilihan paling realistis," ujar Sesa.

Sesa menggambarkan momen perpisahan di pagi hari sebagai pengalaman yang sangat emosional bagi ibu dan anak. Kecemasan mengenai keamanan anak tetap membayangi meski ia menyadari manfaat sosial bagi anaknya.

"Saya mikir, gue ibu jahat enggak sih?" kata Sesa.

Banyaknya berita mengenai kekerasan di tempat penitipan anak menjadi pemicu utama stres bagi para orang tua yang bekerja.

"Sampai malam saya enggak bisa tidur," ujarnya.

Pada akhirnya, ia melihat bahwa anaknya justru mendapatkan kebahagiaan dan kesempatan bersosialisasi yang lebih baik di daycare dibandingkan hanya di rumah.

"Tapi lama-lama saya sadar, anak saya justru lebih happy," ujar Sesa.

Meskipun biayanya mencapai Rp 2 juta per bulan, Sesa menganggap hal tersebut sebagai investasi untuk kesehatan mentalnya agar tetap produktif bekerja.

"Sekitar 2 jutaan sebulan. Buat saya itu besar. Tapi saya pikir itu biaya supaya saya bisa tetap kerja dan tetap waras," kata Sesa.

Komentar negatif dari lingkungan sosial sering kali memperburuk tekanan emosional yang dialami oleh para ibu yang menitipkan anaknya.

"Orang enggak tahu hidup di kota itu keras. Daycare itu kebutuhan, bukan gaya-gayaan," tutur Sesa.

Martha Mulyadani, pengelola Trust DayCare, menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh kebutuhan pasangan suami istri yang keduanya bekerja secara penuh waktu.

"Mayoritas karena suami-istri sama-sama bekerja. Biasanya mereka awalnya pakai ART, tapi ada juga yang akhirnya ditinggal ART-nya atau merasa tidak cocok," kata Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.

Keberadaan teknologi pemantauan seperti CCTV menjadi nilai tambah yang dicari orang tua untuk memitigasi rasa takut akan pengasuhan yang buruk.

"Banyak juga orangtua yang takut menitipkan anak ke pengasuh pribadi karena tidak bisa dipantau. Kalau daycare kan ada CCTV, jadi orangtua bisa memantau real time," ujar Martha.

Selain memberikan pengasuhan, pihak daycare juga menerapkan kurikulum untuk melatih kemandirian dan keterampilan sosial anak sejak dini.

"Daycare juga bukan satu-satunya tempat pendidikan anak. Harus ada kerja sama," kata Martha.

Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga, Tuti Budirahayu, menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan dengan 'parental burnout' akibat beban kerja dan tuntutan domestik.

"Orang tua merasa benar-benar kehabisan energi ketika sudah sampai rumah," kata Tuti Budirahayu, Guru Besar Unair.

Ia memperingatkan risiko munculnya jarak emosional antara anak dan orang tua jika interaksi di rumah menjadi terlalu formal dan minim kualitas.

"Interaksi dengan anak menjadi kaku, mekanis, sering memberi perintah, melarang, dan anak cenderung menjauh dari orang tua," ujar Tuti.

Transformasi dari keluarga besar menjadi keluarga inti (nuclear family) di era modern membuat beban pengasuhan kini sepenuhnya ditanggung secara individu oleh suami dan istri.

"Keluarga modern cenderung menjadi nuclear family dan lebih individualistik, di mana tanggung jawab pengasuhan anak menjadi beban individu (suami dan istri), bukan lagi keluarga besar," kata Tuti.

Bagi kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan finansial, jasa pengasuhan ini menjadi dukungan sosial berbayar yang tak terhindarkan.

"Bagi keluarga yang mampu akan menggunakan berbagai jenis jasa pengasuhan. Itu semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit," ujar Tuti.

Tuti juga menyoroti bagaimana media sosial menciptakan standar orang tua ideal yang sering kali sulit dicapai oleh mereka yang berjuang di tengah keterbatasan ekonomi.

"Orangtua sempurna dan ideal sulit untuk diwujudkan," kata Tuti.

Ia menyimpulkan bahwa kelelahan ekstrem orang tua lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti sistem kerja dan minimnya dukungan struktural.

"Lebih dipicu oleh faktor eksternal atau struktural dan kultural," ujarnya.

Artikel terkait

Rekomendasi