Keputusan BI Naikkan Suku Bunga Acuan Dinilai Menjadi Dilema bagi Perekonomian Nasional

Keputusan BI Naikkan Suku Bunga Acuan Dinilai Menjadi Dilema bagi Perekonomian Nasional
Foto: Ilustrasi Keputusan BI Naikkan Suku Bunga Acuan Dinilai Menjadi Dilema bagi Perekonomian Nasional.

Penulis : Akmalal Hamdhi 21 Mei 2026 | 17:15 WIB

Pekerja melintasi pedestrian saat jam pulang kerja di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, baru-baru ini. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

JAKARTA, investor.id ÔÇô Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate dinilai menjadi dilema bagi perekonomian nasional. Di satu sisi, kebijakan tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah yang terus tertekan. Namun di sisi lain, penaikan suku bunga berisiko menahan laju pertumbuhan ekonomi domestik.

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mengatakan bahwa kenaikan suku bunga dapat menjadi instrumen penting untuk meredam tekanan terhadap rupiah. Namun, kebijakan tersebut dinilai tidak bisa diterapkan terlalu lama karena berpotensi menekan aktivitas ekonomi.

ÔÇ£Ia seperti rem darurat di jalan menurun. Rem itu perlu agar kendaraan tidak tergelincir, tetapi jika ditarik terlalu lama, mesin bisa panas, roda bisa aus, dan perjalanan ekonomi menjadi lambat,ÔÇØ ujar Achmad saat dihubungi, Kamis (21/5/2026).

Sebagaimana diketahui, BI pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RBG) 19-20 Mei 2026 memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Suku bunga deposit facility turut naik menjadi 4,25%, sedangkan lending facility menjadi 6%. Kenaikan ini merupakan yang pertama dalam dua tahun terakhir.

Langkah tersebut diambil di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh sekitar Rp 17.745 per dolar AS atau melemah sekitar 6% sepanjang 2026. BI menyatakan kebijakan itu bertujuan menjaga stabilitas rupiah, mengantisipasi imported inflation, serta merespons tingginya kebutuhan dolar AS jangka pendek.

Namun menurut Achmad, keputusan menaikkan suku bunga secara agresif di tengah inflasi yang relatif terkendali menunjukkan persoalan utama berada pada aspek kepercayaan pasar terhadap rupiah.

ÔÇ£Kalau bank sentral harus menaikkan bunga secara agresif saat inflasi relatif terkendali, berarti masalah utamanya bukan semata inflasi, melainkan kepercayaan pasar terhadap rupiah,ÔÇØ katanya.

Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor global seperti penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, dan ketegangan geopolitik. Faktor domestik juga dinilai memengaruhi persepsi investor, mulai dari arah kebijakan fiskal, kualitas belanja negara, risiko subsidi energi, hingga isu independensi bank sentral.

Achmad memperkirakan dampak suku bunga tinggi akan mulai dirasakan pada sektor kredit investasi, kredit modal kerja, kredit pemilikan rumah (KPR), pembiayaan UMKM, hingga ekspansi korporasi. ÔÇ£Perusahaan menunda ekspansi, rumah tangga menahan konsumsi, dan UMKM makin sulit memperoleh modal murah,ÔÇØ ujarnya.

Menurut dia, suku bunga tinggi memang dapat menarik arus modal jangka pendek dan meningkatkan daya tarik aset berbasis rupiah. Namun kebijakan tersebut dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan fundamental ekonomi nasional.

ÔÇ£Masalah seperti struktur ekspor, ketergantungan impor energi, maupun kualitas belanja negara tidak otomatis selesai hanya dengan menaikkan suku bunga,ÔÇØ kata Achmad.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan pada triwulan I-2026. Dari sisi produksi, sektor akomodasi dan makan minum tumbuh 13,14%, sedangkan konsumsi pemerintah meningkat 21,81%. Meski demikian, Achmad mengingatkan pertumbuhan yang ditopang konsumsi pemerintah belum tentu mencerminkan kekuatan ekonomi produktif secara menyeluruh.

Sementara itu, BI masih mempertahankan target pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4,9%-5,7%. Achmad menilai, jika suku bunga tinggi dipertahankan terlalu lama, pertumbuhan ekonomi berpotensi bergerak ke batas bawah target tersebut.

ÔÇ£Dalam kondisi itu, rupiah memang mungkin tertahan sementara, tetapi ekonomi domestik kehilangan tenaga,ÔÇØ tutupnya.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Langkah Selanjutnya Setelah BI-Rate Naik, Ini Kata Ekonom

Pakar Ungkap Nasib Rupiah Jelang Akhir Pekan

Rupiah Kembali Terseret Tekanan Ganda

Ekonom Ungkap Tantangan Indonesia Capai Target Pertumbuhan Ekonomi 6,5%

Rupiah Hari Ini Berbalik Arah, Ini Penyebabnya

Market 5 menit yang lalu Kata Pefindo dan S&P tentang Masa Depan Sektor CPO hingga Batu Bara Cs Pefindo dan S&P menilai sektor komoditas Indonesia masih kuat, meski industri hilir menghadapi tekanan hingga 2026.

Finance 19 menit yang lalu BI Rate Naik, BMRI Jaga Pertumbuhan Kredit Bank Mandiri tetap konsisten menjaga pertumbuhan kredit tetap optimal di tengah kebijakan suku bunga acuan yang naik.

Macroeconomy 22 menit yang lalu Giliran MoodyÔÇÖs Soroti Kebijakan ÔÇÿEkspor Satu PintuÔÇÖ Prabowo Menurut MoodyÔÇÖs, rencana ekspor yang terpusat memang dapat mendukung arus masuk valuta asing, namun meningkatkan risiko distorsi pasar.

Market 23 menit yang lalu Tingkatkan Perdagangan Karbon, OJK Sampaikan Revisi Aturan ke Komisi XI DPR OJK sampaikan revisi aturan penyelenggaraan bursa karbon ke Komisi XI DPR sehubungan Perpres No 110 Tahun 2025, guna tingkatkan perdagangan.

Business 29 menit yang lalu ASDP Rampungkan Revitalisasi Pelabuhan Bajoe Aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Bajoe, Sulawesi Selatan, kini memasuki babak baru.

Finance 34 menit yang lalu BBNI Yakin Kebijakan DHE SDA Perkuat Stabilitas Rupiah BNI mendukung penuh langkah pemerintah yang akan mulai memberlakukan aturan baru mengenai DHE SDA mulai 1 Juni.

Artikel terkait

Rekomendasi