Industri Pertambangan Nasional Mulai Terapkan Digitalisasi Operasional

Industri Pertambangan Nasional Mulai Terapkan Digitalisasi Operasional
Foto: Ilustrasi Industri Pertambangan Nasional Mulai Terapkan Digitalisasi Operasional.

Sektor pertambangan dan metalurgi nasional kini menjadikan transformasi digital sebagai kebutuhan pokok untuk memacu efisiensi serta standar keselamatan kerja. Langkah ini diambil guna memperkuat posisi Indonesia di pasar energi global yang tengah beralih menuju energi terbarukan, sebagaimana disampaikan di Jakarta pada Kamis (7/5/2026).

Integrasi antara operasional hulu dan pengolahan mineral di hilir dianggap krusial dalam mendukung pertumbuhan industri yang berkelanjutan. Dilansir dari Money, adopsi teknologi sensorik saat ini difokuskan untuk meminimalkan keterlibatan manual manusia pada area berisiko tinggi.

Head of Committee MetConnex 2026, Bara Dipolyadi menjelaskan bahwa penerapan teknologi mencakup berbagai tahapan, mulai dari proses penggilingan hingga penggunaan sensor luar pada alat berat.

"Di proses mineral itu nanti ada penggunaan teknologi. Kalau di proses tambang itu ada proses penggilingan," ujar Bara Dipolyadi, Head of Committee MetConnex 2026.

Keberadaan forum kolaborasi seperti METCONNEX ÔÇô Mine Aidic 2026 bertujuan menjadi wadah berbagi inovasi guna menjembatani kebutuhan industri dengan teknologi terbaru.

"Alat ini, sensorik ini, kita memerlukan orang untuk masuk ke dalam alatnya. Jadi sensornya dipasang di luar. Ini salah satu teknologi untuk mengurangi proses manual dan juga untuk safety," lanjut Bara Dipolyadi.

Ketua Ikatan Alumni Teknik Pertambangan ITB, Achmad Ardianto menekankan bahwa digitalisasi berkembang pesat seiring tuntutan peningkatan produktivitas nasional.

"Dulu mungkin kita melihat pertambangan ini padat karya, semuanya dilakukan manual," kata Achmad Ardianto, Ketua Ikatan Alumni Teknik Pertambangan ITB.

Pemanfaatan sistem operasi jarak jauh dan otomatisasi diproyeksikan mampu mendongkrak pendapatan negara serta mengoptimalkan biaya operasional di masa mendatang.

"Tapi dengan perkembangan teknologi, kita bisa meningkatkan recovery, kita bisa mengefisienkan cost, kita bisa meningkatkan pendapatan negara ke depannya," lanjut Achmad Ardianto.

Ardianto juga mencontohkan penggunaan sistem optimasi yang mampu memprediksi masa pakai komponen alat berat untuk mencegah kerusakan mendadak.

"Sehingga kita bisa menekan downtime yang akan menyebabkan multiplier effect, efeknya akan semakin besar," ujar Achmad Ardianto.

Ajang pameran mendatang akan menampilkan secara langsung bagaimana teknologi mutakhir mulai diimplementasikan dalam ekosistem pertambangan.

"Nanti MetConnex salah satunya akan menunjukkan penerapan teknologi di dunia pertambangan," kata Achmad Ardianto.

Chairman of ITB Metallurgy Alumni Association, Erika Silva berpendapat bahwa penggunaan teknologi muncul dari urgensi operasional di lapangan.

"Teknologi di ekosistem industri pertambangan itu muncul karena kebutuhan," ujar Erika Silva, Chairman of ITB Metallurgy Alumni Association.

Faktor keselamatan menjadi pendorong utama di mana operator kini dapat mengendalikan alat dari jarak jauh tanpa harus berada di lokasi berbahaya.

"Kebutuhan untuk risiko keselamatan kerja. Contohnya pakai remote, orang enggak boleh masuk ke dalam alat," lanjut Erika Silva.

Sistem manajemen data real-time melalui teknologi radar juga membantu perusahaan mengantisipasi periode henti produksi secara lebih terukur.

"Banyak sekali kemudahan, tapi karena kebutuhan," kata Erika Silva.

Kendati demikian, besarnya biaya investasi awal masih menjadi ganjalan utama bagi banyak perusahaan tambang untuk melakukan modernisasi.

"Tantangannya biasanya investasi untuk teknologi," ujar Erika Silva.

Perusahaan besar seperti Freeport dan Antam telah memulai transisi ini, namun standardisasi tetap diperlukan agar teknologi dapat diakses oleh pelaku industri yang memiliki keterbatasan modal.

"Tantangan berikutnya adalah menyiapkan SDM supaya bisa menggunakan teknologinya," kata Erika Silva.

Pengembangan sumber daya manusia menjadi fokus selanjutnya agar adopsi teknologi dapat berjalan beriringan dengan kompetensi tenaga kerja lokal.

"Yang kedua adalah standarisasi supaya perusahaan-perusahaan yang belum mampu investasi bisa menggunakan teknologi yang lebih murah," lanjut Erika Silva.

METCONNEX 2026 dijadwalkan berlangsung pada 11-13 Mei 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) dengan rangkaian diskusi strategis mengenai hilirisasi dan keberlanjutan lingkungan.

Artikel terkait

Rekomendasi