Sisi Lain Trotoar Jakarta: Denyut Bertahan Hidup Jasa Cat Duco

Sisi Lain Trotoar Jakarta: Denyut Bertahan Hidup Jasa Cat Duco
Foto: Ilustrasi Sisi Lain Trotoar Jakarta: Denyut Bertahan Hidup Jasa Cat Duco.

Deru kendaraan tak pernah benar-benar berhenti di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat. Di sela kepadatan arus lalu lintas siang hari, beberapa pria berdiri di tepi jalan sambil memperhatikan kendaraan yang melintas pelan. Sebagian melambaikan tangan ke arah pengendara mobil, sebagian lain duduk di bawah pohon sambil menunggu pelanggan datang.

Di belakang mereka, papan bertuliskan ÔÇ£CAT DUCO MOBIL MOTORÔÇØ, ÔÇ£LAS KETOKÔÇØ, hingga ÔÇ£BARET & PENYOKÔÇØ berjajar mencolok di pinggir trotoar. Tulisan besar berwarna merah sengaja dibuat agar mudah terlihat dari kejauhan. Pemandangan serupa terlihat di sejumlah ruas jalan Jakarta, mulai dari kawasan Matraman Jakarta Timur, Salemba, hingga Kramat Raya, Jakarta Pusat. Jasa cat duco pinggir jalan menjadi bagian dari denyut ekonomi informal ibu kota yang terus bertahan di tengah persaingan bengkel modern dan penertiban aparat.

Bertahan di Antara Debu dan Aroma Thinner

Pantauan pada Rabu (13/5/2026) menunjukkan suasana di lokasi terasa sibuk sejak siang hari. Bunyi klakson kendaraan bercampur suara gerinda dan ketukan besi dari proses perbaikan bodi kendaraan. Aroma cat, thinner, dan asap kendaraan menyatu di udara. Beberapa pekerja tampak mengenakan rompi kusam sambil berdiri di pinggir jalan menawarkan jasa kepada pengendara. Peralatan sederhana seperti amplas, kuas, kaleng cat, hingga kompresor kecil tersimpan di bawah pohon atau di sisi trotoar.

Meski terlihat seperti bengkel dadakan di pinggir jalan, proses pengecatan sebenarnya dilakukan di bengkel-bengkel kecil yang tersebar di gang permukiman sekitar lokasi.

"Kalau sudah deal, mobil dibawa ke bengkel. Ngecatnya tetap di bengkel, bukan di sini" ujar Luhur, pekerja jasa cat duco di kawasan Salemba.

Luhur mengaku sudah hampir satu dekade bekerja di jasa cat duco pinggir jalan. Awalnya ia hanya membantu temannya di bengkel kecil sebelum akhirnya ikut mencari pelanggan di jalan.

"Dulu cuma bantu amplas sama dempul. Lama-lama belajar nyemprot cat, terus sekarang ikut cari pelanggan juga di jalan" kata Luhur, pekerja jasa cat duco di kawasan Salemba.

Menurut dia, sistem kerja jasa cat duco umumnya terbagi dua. Sebagian pekerja bertugas mencari pelanggan di tepi jalan, sementara lainnya bekerja di bengkel pengecatan. Dalam sehari, ia mulai bekerja sejak pukul 06.00 WIB hingga sore hari. Namun penghasilannya tidak menentu.

"Kadang sehari bisa dapat dua sampai tiga mobil. Kadang seminggu kosong juga ada" ujar Luhur, pekerja jasa cat duco di kawasan Salemba.

Untuk tarif, jasa perbaikan baret ringan dipatok mulai Rp 500.00 hingga Rp 700.000 per panel. Sementara perbaikan penyok dan cat ulang bisa mencapai Rp 1 juta hingga Rp 2 juta, tergantung tingkat kerusakan kendaraan.

"Kalau full body beda lagi hitungannya. Tapi kebanyakan orang ke sini karena mau murah dan cepat" tutur Luhur, pekerja jasa cat duco di kawasan Salemba.

Warisan Krisis dan Persaingan yang Kian Ketat

Fenomena jasa cat duco pinggir jalan sebenarnya bukan hal baru di Jakarta. Maman (50), pekerja cat duco di kawasan Salemba Raya, mengatakan pekerjaan tersebut sudah ada sejak puluhan tahun lalu.

"Dari tahun 1970-an sudah ada. Pas zaman krisis ekonomi 1998 makin banyak orang turun ke jalan cari kerja begini" ujar Maman, pekerja cat duco di kawasan Salemba Raya.

Maman sendiri sudah menjalani pekerjaan itu sejak 1996. Ia mengaku belajar langsung dari bengkel, mulai dari amplas, dempul, hingga teknik pengecatan.

"Saya juga pernah kerja di bengkel besar, termasuk Toyota" kata Maman, pekerja cat duco di kawasan Salemba Raya.

Menurut dia, sistem kerja di lapangan lebih bersifat kolektif dibanding formal. Tidak ada struktur perusahaan seperti bengkel resmi. Namun di tengah menjamurnya jasa serupa, persaingan antarpelaku usaha menjadi semakin keras. Dalam satu ruas jalan, bisa terdapat lebih dari 10 pencari pelanggan dari bengkel berbeda. Hal serupa diungkapkan Rony (24), pencari pelanggan jasa cat duco di kawasan Matraman, Jakarta Timur yang sudah ikut orangtuanya bekerja sejak usia 13 tahun.

"Kadang satu mobil, kadang dua mobil. Kadang seminggu kosong" kata Rony, pencari pelanggan jasa cat duco di kawasan Matraman.

Rony menjelaskan bahwa persaingan semakin ketat karena banyak orang mulai masuk ke usaha serupa.

"Yang nyari pelanggan ramai, tapi mobilnya belum tentu ada" ujar Rony, pencari pelanggan jasa cat duco di kawasan Matraman.

Di Jalan Kramat Raya, Asep (48) juga merasakan kondisi serupa. Ia sudah 26 tahun bekerja sebagai pencari pelanggan jasa cat mobil pinggir jalan.

"Dulu masih sedikit yang begini, belum seramai sekarang" ujar Asep, pencari pelanggan jasa cat mobil pinggir jalan.

Asep mengaku tidak memiliki modal cukup untuk membuka bengkel sendiri. Karena itu, ia memilih menjadi pencari pelanggan yang bekerja sama dengan bengkel-bengkel kecil di kawasan Jakarta Pusat.

"Nanti kalau ada mobil yang mau benerin baret atau penyok, kita arahkan ke bengkel. Kita dapat bagian dari situ" kata Asep, pencari pelanggan jasa cat mobil pinggir jalan.

Analisis Kebutuhan Konsumen dan Ekonomi Informal

Komisi yang diterima pencari pelanggan berkisar Rp 100.000 hingga Rp 300.000 untuk satu kendaraan, tergantung jenis pekerjaan. Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai keberadaan jasa cat duco pinggir jalan di Jakarta merupakan layanan yang sudah lama tumbuh sebagai alternatif perbaikan kendaraan bagi masyarakat.

"Cat duco pinggir jalan sudah lama berlangsung, bukan tren baru" ujar Bebin Djuana, Pengamat otomotif.

Ia mengatakan, jasa tersebut umumnya dimanfaatkan pemilik kendaraan yang tidak memiliki perlindungan asuransi atau ingin menghemat biaya perbaikan bodi kendaraan.

"Biasanya yang memanfaatkan jasa perbaikan pinggir jalan mereka yang tidak melindungi kendaraan dengan asuransi, atau sopir yang takut kena damprat bos akibat serempetan di jalan" kata Bebin Djuana, Pengamat otomotif.

Menurut Bebin, keunggulan utama jasa cat duco informal terletak pada kecepatan pengerjaan dan harga yang lebih terjangkau. Namun, kondisi itu juga berdampak pada kualitas hasil pengerjaan yang tidak selalu tahan lama.

"Tentu biayanya juga standar pinggir jalan, dengan konsekuensi kualitas pekerjaan ala kadarnya dan tidak tahan lama" ujar Bebin Djuana, Pengamat otomotif.

Meski demikian, Bebin menilai sebagian pekerja cat duco sebenarnya memiliki keterampilan teknis yang cukup baik karena pernah bekerja di bengkel profesional atau belajar langsung di lapangan selama bertahun-tahun.

"Yang mengerjakan sebetulnya tukang cat yang punya pengalaman dan cukup keterampilan, namun tidak didukung modal yang cukup untuk melengkapi diri agar mendapatkan hasil yang baik" kata Bebin Djuana, Pengamat otomotif.

Ia menambahkan, kualitas hasil pengerjaan juga sering dipengaruhi permintaan konsumen yang menekan biaya perbaikan agar tetap murah.

"Sering kali juga karena desakan konsumen yang menekan biaya hingga memaksa memakai material berkualitas rendah. Ada harga ada barang" ujar Bebin Djuana, Pengamat otomotif.

Cermin Prekariat Urban Jakarta

Pengamat ekonomi dan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, mengatakan pertumbuhan jasa ini dipengaruhi kombinasi permintaan pasar dan tekanan ekonomi masyarakat.

"Jakarta punya basis kendaraan besar, mobil penumpang saja sekitar 2,33 juta unit pada 2024, sehingga kebutuhan perbaikan bodi dan kosmetik kendaraan sangat besar" kata Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.

Di sisi lain, menurut Rizal, konsumen kelas menengah bawah cenderung mencari layanan yang lebih murah dan fleksibel dibanding bengkel resmi.

"Dalam kondisi daya beli tertekan, banyak konsumen lebih memilih cukup rapi dan murah daripada layanan sempurna tetapi mahal" ujar Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.

Fenomena ini juga mencerminkan besarnya sektor informal di Jakarta di mana sektor formal belum mampu menyerap seluruh tenaga kerja.

"Data BPS terbaru menunjukkan pekerja informal Jakarta mencapai sekitar 1,98 juta orang atau 38,13 persen dari penduduk bekerja pada Februari 2026" kata Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.

Rizal menilai pendekatan paling realistis adalah penataan dan pembinaan, bukan penggusuran semata.

"Pemerintah bisa membuat zona usaha otomotif informal, pelatihan K3, akses KUR mikro, dan kemitraan dengan bengkel formal" kata Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, melihat fenomena ini sebagai bentuk strategi bertahan hidup masyarakat urban di tengah keterbatasan lapangan kerja formal.

"Kota besar seperti Jakarta menjadi ruang bertemunya arus migrasi, kebutuhan ekonomi, dan keterbatasan lapangan kerja formal" ujar Rakhmat Hidayat, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta.

Menurut dia, jasa cat duco pinggir jalan merupakan bagian dari ekonomi informal perkotaan yang fleksibel, murah, dan cepat diakses.

"Banyak pekerja memiliki keterampilan teknis, tetapi tidak memiliki modal, sertifikasi, atau akses masuk ke industri formal" kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta.

Rakhmat menyebut para pekerja ini berada dalam kelompok ÔÇ£prekariat urbanÔÇØ, yakni kelompok pekerja yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Selain itu, hal ini berkaitan dengan budaya konsumsi di mana kendaraan adalah simbol status sosial.

"Tidak semua orang mampu mengakses bengkel premium. Di sinilah jasa cat duco menemukan pasarnya" kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta.

Kucing-kucingan dengan Aturan

Keberadaan jasa cat duco di trotoar dan bahu jalan kerap menjadi sasaran penertiban petugas karena dianggap melanggar aturan ketertiban umum.

"Kegiatan cat duco pinggir jalan pada umumnya tidak sesuai ketentuan dan seharusnya dilakukan penindakan oleh instansi terkait ketertiban umum" kata Yogi Ikhsan, Juru Bicara Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Jakarta Pusat, Purnama Hasudungan Panggabean, mengatakan penertiban rutin dilakukan oleh Satpol PP Kecamatan Senen.

"Tapi seperti kucing-kucingan" ujar Purnama Hasudungan Panggabean, Kepala Satpol PP Jakarta Pusat.

Menurut dia, para pekerja biasanya kembali lagi ke lokasi setelah situasi dianggap aman. Meski demikian, ia menilai pendekatan penertiban saja tidak cukup menyelesaikan persoalan.

"Memang perlu kolaborasi untuk menampung mereka agar bisa mencari nafkah di suatu tempat" kata Purnama Hasudungan Panggabean, Kepala Satpol PP Jakarta Pusat.

Artikel terkait

Rekomendasi