Ekonom Perdebatkan Klaim Gubernur BI Mengenai Nilai Fundamental Rupiah

Ekonom Perdebatkan Klaim Gubernur BI Mengenai Nilai Fundamental Rupiah
Foto: Ilustrasi Ekonom Perdebatkan Klaim Gubernur BI Mengenai Nilai Fundamental Rupiah.

Pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengenai posisi nilai tukar rupiah yang berada di bawah nilai fundamentalnya memicu perbedaan pandangan di antara para ekonom pada Kamis (23/4/2026). Analisis pasar menunjukkan adanya pertentangan antara indikator nilai tukar riil dengan tekanan permintaan valuta asing yang masih sangat kuat.

Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menegaskan bahwa performa ekonomi domestik yang tetap solid menjadi landasan penilaian terhadap mata uang Garuda tersebut.

"Kami tegaskan bahwa nilai tukar rupiah sekarang ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamental," ujar Perry Warjiyo, Gubernur BI saat konferensi pers, Rabu (22/4/2026).

Perry menjelaskan bahwa meskipun fundamental kuat, kondisi eksternal seperti konflik di Iran telah memicu kenaikan harga minyak global dan penguatan dollar AS. Hal ini berdampak pada kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang memengaruhi arus modal di negara berkembang.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memberikan dukungan terhadap pernyataan tersebut berdasarkan indikator Real Effective Exchange Rate (REER), sebagaimana dilansir dari Money.

"Menurut saya, pernyataan bahwa rupiah sedang undervalued itu ada dasarnya jika dilihat dari nilai tukar riil efektif (REER), bukan hanya dari angka rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di layar," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank.

Data menunjukkan indeks REER terus mengalami penurunan dari 94,1 pada Desember 2025 menjadi 91,2 pada Februari 2026, yang berada di bawah titik acuan 100 sebagai indikasi nilai wajar. Penurunan ini beriringan dengan pelemahan nilai tukar nominal yang sempat menyentuh angka Rp 17.300 per dollar AS akibat eskalasi konflik Timur Tengah dan tingginya persepsi risiko.

"Jadi dalam ukuran riil rupiah memang terlihat undervalued (REER di bawah 100). Namun murah tidak berarti otomatis akan segera balik menguat, karena mata uang bisa tetap murah cukup lama kalau premi risiko masih tinggi dan pasar masih gelisah," ungkap Josua Pardede.

Sebaliknya, Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai sebutan undervalued kurang tepat untuk situasi saat ini. Ia menyoroti tingginya permintaan valuta asing di pasar domestik yang didorong oleh kebutuhan aliran dana jangka pendek serta pembayaran dividen pelaku usaha.

"Jadi itu yang membuat kenapa kalau kita lihat pergerakan rupiah untuk saat ini belum bisa dikatakan undervalue," ucap Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia.

Kondisi neraca perdagangan yang tertekan akibat kenaikan harga minyak dunia turut menjadi perhatian karena berpotensi menyempitkan surplus perdagangan. Myrdal berpendapat bahwa status undervalued seharusnya ditopang oleh surplus perdagangan yang kuat guna menjaga kesehatan neraca transaksi berjalan.

"Jadi kalau kondisinya sekarang di saat terjadi di posisi hot moneynya itu masih hot flow dan trade surplusnya juga tergerus, saya rasa sih sudah bukan statement yang tepat kalau dibilang rupiah kita masih undervalue," jelas Myrdal Gunarto.

Penilaian ini juga mempertimbangkan tingginya arus keluar modal yang membuat argumen nilai fundamental menjadi kurang relevan dalam jangka pendek. Myrdal menambahkan bahwa stabilisasi nilai tukar memerlukan pertimbangan matang terhadap cadangan devisa negara.

"Kecuali memang cadangan devisa kita mau dikerahkan semuanya hanya untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Tapi secara fundamentalnya kita lihat permintaan valas sekarang sedang tinggi-tingginya," sambung Myrdal Gunarto.

Artikel terkait

Rekomendasi