Lembaga perbankan DBS melakukan revisi terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026. Angka estimasi yang sebelumnya dipatok pada level 5,3 persen kini dipangkas menjadi 5,1 persen.
Dilansir dari Investor Daily, meskipun realisasi pada awal tahun dianggap sesuai ekspektasi, DBS memperingatkan adanya potensi perlambatan. Hal ini dipicu oleh penurunan aktivitas riil serta terbatasnya dukungan dari sektor fiskal.
Ekonom Senior DBS untuk kawasan Uni Eropa, India, dan Indonesia, Radhika Rao, menjelaskan bahwa pencapaian ekonomi nasional pada triwulan I-2026 telah menyentuh angka 5,61 persen secara tahunan (yoy).
"Ini menandai pertumbuhan kuartalan tercepat sejak kuartal ketiga 2022," ungkap Radhika Rao dalam laporan bertajuk Indonesia growth: Firm start, speed bump ahead.
Ketangguhan ekonomi pada awal tahun ini didorong oleh lonjakan konsumsi selama perayaan hari besar keagamaan. Selain itu, stimulus fiskal berupa tunjangan hari raya dan belanja pemerintah yang masif turut memperkuat pondasi ekonomi.
Namun, dinamika pasar mulai menunjukkan perubahan signifikan menjelang akhir Maret 2026. Volatilitas pasar saham dan gangguan rantai pasok global akibat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran mulai menekan aktivitas bisnis.
Data ekonomi menunjukkan konsumsi rumah tangga dan pemerintah tumbuh 7 persen secara tahunan. Sektor investasi juga menunjukkan performa solid dengan pertumbuhan di kisaran 6 persen yoy pada periode yang sama.
Di sisi lain, ekspor bersih menjadi penahan laju pertumbuhan utama. Sektor ini memberikan kontribusi negatif dengan mengurangi angka pertumbuhan keseluruhan sebesar 1,2 poin persentase.
DBS menilai bahwa performa pada triwulan pertama kemungkinan besar akan menjadi titik puncak pertumbuhan tahun ini. Momentum diprediksi melambat seiring dengan tingginya harga energi global yang membebani aktivitas riil masyarakat.
Tekanan untuk menyeimbangkan kesehatan keuangan publik juga menjadi faktor penentu. Pemerintah menghadapi tantangan besar dalam mengelola ruang fiskal di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi eksternal yang terus membayangi.
Radhika Rao menyebutkan bahwa penyesuaian target tahunan ini merupakan langkah realistis dalam merespons risiko-risiko baru yang muncul. Walaupun fondasi awal tahun sudah positif, kewaspadaan terhadap guncangan luar negeri tetap menjadi prioritas.
"Dengan mempertimbangkan risiko-risiko tersebut, kami sedikit merevisi turun proyeksi pertumbuhan kami menjadi 5,1% dibandingkan dengan 5,3% saat ini untuk tahun 2026," jelas Radhika Rao.