Indeks IDX BUMN20 Tunjukkan Daya Tahan di Tengah Tekanan Pasar 2026

Indeks IDX BUMN20 Tunjukkan Daya Tahan di Tengah Tekanan Pasar 2026
Foto: Ilustrasi Indeks IDX BUMN20 Tunjukkan Daya Tahan di Tengah Tekanan Pasar 2026.

Kinerja indeks saham Badan Usaha Milik Negara, IDX BUMN20, menunjukkan daya tahan yang lebih kuat dibandingkan indeks acuan lainnya di tengah tekanan pasar modal sepanjang awal 2026.

Dikutip dari Market, data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 4 Mei 2026 mencatat IDX BUMN20 terkoreksi sebesar 8,81% sejak awal tahun (year to date/YtD).

Penurunan ini tergolong lebih terbatas jika disandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 19,37% YtD, maupun indeks LQ45 yang terkontraksi 20,32% YtD.

Ketangguhan relatif ini dipicu oleh fundamental mayoritas emiten pelat merah yang tetap tumbuh, di mana 13 dari 18 emiten BUMN mencatatkan kenaikan laba bersih pada kuartal I/2026.

Sektor energi dan pertambangan menjadi penggerak utama, salah satunya PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) yang membukukan lonjakan laba bersih 104,81% menjadi Rp801,79 miliar secara tahunan.

Kinerja impresif juga datang dari Aneka Tambang yang mencatatkan kenaikan laba 59,85% mencapai Rp3,40 triliun pada periode yang sama.

Sektor perbankan tetap menjadi penopang paling solid bagi indeks ini melalui raihan laba besar dari bank-bank kelas kakap.

Bank Rakyat Indonesia (BBRI) meraup laba Rp15,49 triliun atau tumbuh 13,74% YoY, sementara Bank Mandiri mencatatkan Rp15,38 triliun dengan kenaikan 16,57% YoY.

Bank Negara Indonesia (BBNI) dan Bank Tabungan Negara (BBTN) juga melaporkan tren positif dengan pertumbuhan laba masing-masing 5,21% dan 22,60%.

Evaluasi dan Strategi Investasi

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menyatakan bahwa capaian tersebut merupakan sinyal positif bagi pasar meski belum cukup memicu aksi agresif dari investor.

ÔÇ£Perlu konfirmasi lanjutan di kuartal dua dan tiga apakah pertumbuhan ini berkelanjutan atau hanya low-base effect. Apalagi beberapa sektor seperti semen dan konstruksi masih tertekan,ÔÇØ ujar Muhammad Wafi.

Menurutnya, valuasi saham perbankan pelat merah seperti BBRI, BMRI, dan BBNI saat ini masih tergolong wajar hingga murah setelah sempat mengalami koreksi harga.

Wafi menyarankan investor untuk menerapkan strategi kombinasi antara pertumbuhan dan stabilitas dengan fokus pada emiten yang memiliki neraca keuangan sehat.

ÔÇ£Prioritaskan emiten yang punya visibilitas laba kuat, balance sheet sehat dan katalis jelas. Secara praktis, overweight di perbankan besar dan komoditas yang arus kas kuat, sambil selektif di sektor lain,ÔÇØ kata Muhammad Wafi.

Potensi Dividen dan Transformasi Danantara

Daya tarik saham BUMN juga didukung oleh potensi imbal hasil dividen yang besar, yang tercatat mencapai Rp140 triliun pada 2025, melonjak 72% dari tahun 2023.

Associate Director BUMN Research Group LM FEB UI, Toto Pranoto, menyebut lonjakan dividen ini beriringan dengan transformasi tata kelola melalui Danantara Indonesia.

ÔÇ£Situasi pareto belum menunjukkan perubahan signifikan,ÔÇØ ujar Toto Pranoto, mengingat sekitar 75% laba BUMN masih bertumpu pada enam emiten besar.

Ke depannya, COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa kebijakan dividen akan lebih fleksibel menyesuaikan kebutuhan investasi masing-masing holding.

ÔÇ£Sekarang kami lihat saja berapa kebutuhan dari dua holding tersebut. Kebutuhannya belum terlihat karena RKAP lagi disusun. Selesai RKAP nanti baru kelihatan kebutuhannya,ÔÇØ tutur Toto Pranoto.

Danantara menargetkan total laba BUMN pada 2026 mencapai Rp350 triliun melalui langkah efisiensi dan penyederhanaan entitas dari 1.000 menjadi 300 perusahaan.

Artikel terkait

Rekomendasi