PT Danantara Sumberdaya Indonesia yang didirikan pada tanggal 18 Mei 2026 kini bersiap untuk bertransformasi menjadi Badan Usaha Milik Negara guna mengendalikan kegiatan ekspor komoditas nasional tertentu.
Dilansir dari Suara, CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan di Jakarta pada hari Kamis (20/5/2026) bahwa status hukum lembaga tersebut saat ini masih tercatat sebagai perusahaan swasta nasional.
Entitas baru ini diproyeksikan untuk menjalankan peran strategis sebagai perantara yang menghubungkan para pelaku usaha komoditas di dalam negeri dengan pihak pembeli di pasar internasional.
"Nah, kemudian memang ini tentunya akan dilakukan oleh BUMN, ini segera akan menjadi BUMN," ujarnya Rosan Roeslani, CEO BPI Danantara.
Pada tahap awal operasionalnya, perusahaan ini diamanatkan untuk mengontrol arus ekspor tiga komoditas utama, yakni minyak kelapa sawit mentah (CPO), batu bara, serta produk paduan logam.
Mekanisme kerja lembaga ini difokuskan pada pengumpulan data ekspor yang dikirimkan oleh para eksportir guna menyelaraskan kesesuaian harga transaksi dengan kondisi pasar global.
"Kami menyampaikan bahwa semua transaksi yang berkaitan dengan ekspor sifatnya hanya pelaporan terlebih dahulu, pelaporan terlebih dahulu, Q-to-Q secara komprehensif kepada kami," ucap Rosan Roeslani, CEO BPI Danantara.
Status modal dari badan usaha ini juga sudah terdaftar dalam data Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dengan rincian permodalan yang terbagi atas dua seri saham.
Modal dasar untuk Seri A ditetapkan senilai Rp 99.750.000 untuk 399 lembar saham, sedangkan Seri B senilai Rp 250.000, dengan harga per lembar saham yang dipatok sebesar Rp 250.000.
Untuk modal ditempatkan, Seri A tercatat sebesar Rp 24.750.000 dengan kepemilikan 99 lembar saham dan Seri B bernilai Rp 250.000 dengan nominal Rp 250.000 per lembar saham.
BPI Danantara selaku induk usaha juga telah menyetorkan modal tunai sebesar Rp 25.000.000 kepada PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
Struktur kepemilikan saham Seri A mayoritas dipegang oleh PT Danantara Investment Management yang dipimpin Pandu Sjahrir, sementara sisa 1 persen saham Seri B dikuasai oleh PT Danantara Mitra Sinergi.
Manajemen operasional perusahaan saat ini hanya diisi oleh dua pengurus inti, yakni Luke Thomas Mahony yang menjabat sebagai Direktur dan Harold Jonathan Dharma TJ selaku Komisaris.