Pembentukan badan khusus ekspor melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) dinilai bakal membawa dampak positif terhadap emiten yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah strategis pemerintah ini dibentuk dengan tujuan utama untuk menertibkan tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa praktik under-invoicing dan transfer pricing selama ini merugikan perusahaan serta negara. Skema manipulasi tersebut membuat sebagian keuntungan perusahaan tidak tercermin secara optimal dalam laporan keuangan emiten, seperti dikutip dari Investortrust.
Melalui implementasi kebijakan baru ini, tingkat profitabilitas perusahaan domestik diproyeksikan mampu mengalami lonjakan yang signifikan.
"Kalau kita melihat potensi untuk perusahaan Indonesia yang terdaftar di BEI, itu akan positif karena keuntungan diambil oleh pemegang saham utama. Mungkin pemain asing sekarang akan tercermin secara adil di wajah mereka," kata Purbaya dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Purbaya mengestimasi bahwa profitabilitas perusahaan berpeluang meningkat hingga dua kali lipat jika praktik manipulasi harga ekspor berhasil ditekan secara total.
"Jika saya tidak salah, profitabilitas harus berlipat ganda. Jadi ini berita positif untuk perusahaan di pasar saham," ujar Purbaya.
Berdasarkan temuan pemerintah, terdapat indikasi kuat mengenai praktik under-invoicing dan transfer pricing pada aktivitas ekspor komoditas SDA. Dalam skema tersebut, produk dijual ke perusahaan afiliasi di luar negeri dengan harga lebih rendah, sebelum akhirnya dilepas kembali ke pasar internasional dengan harga yang jauh lebih tinggi.Kehadiran PT Danantara Sumber Daya Indonesia diarahkan untuk memperkuat sistem pengawasan sekaligus meningkatkan transparansi perdagangan komoditas strategis. Fokus pengawasan ini mencakup sektor-sektor utama seperti batu bara, kelapa sawit, hingga ferroalloy.
Kebijakan penertiban ini diperkirakan tidak hanya memperkuat pos penerimaan negara dan menjaga stabilitas devisa, melainkan juga menaikkan nilai serta kinerja emiten lokal di pasar modal.
"Kalau saya bilang saatnya membeli, bersiaplah. Jadi kalau saya bilang it's time to buy, siap-siap serok saja," tutur Purbaya.
Di sisi lain, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI pada Rabu (20/5/2026) ditutup melemah sebesar 52,18 poin atau terkoreksi 0,82% ke level 6.318. Indeks saham bergerak fluktuatif pada rentang 6.215 hingga 6.459 dengan total nilai transaksi harian mencapai Rp 20,57 triliun, di mana sebagian besar saham sektor sumber daya alam mengalami penurunan.