Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan total dana kelolaan atau asset under management (AUM) industri reksa dana nasional tumbuh positif hingga mencapai Rp694,72 triliun pada April 2026. Pertumbuhan ini terjadi di tengah tekanan sentimen pasar modal Indonesia pada Selasa (5/5/2026).
Data otoritas menunjukkan realisasi tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 5,47 persen secara year-to-date (YtD). Dilansir dari Bisnis, kondisi ini didorong oleh aksi beli yang dilakukan oleh para pemodal di tengah fluktuasi pasar.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa stabilitas industri ini didukung oleh arus masuk dana dari para investor.
"Kinerja industri reksa dana yang tetap terjaga ini ditopang oleh kecenderungan investor reksa dana untuk tetap melakukan subscription dengan angka net subscription sebesar Rp8,11 triliun MtD dan total sebesar Rp37,24 triliun YtD," kata Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK.
OJK juga memberikan catatan khusus pada instrumen Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT). Berdasarkan data terbaru, AUM pada kategori ini berada di angka Rp18,93 triliun, atau mengalami koreksi sebesar 3,02 persen YtD.
Peningkatan nilai kelolaan dana tersebut beriringan dengan lonjakan jumlah investor yang kini menyentuh angka 26,49 juta Single Investor Identification (SID). Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sekitar 30,06 persen YtD.
"Jumlah investor di pasar modal dalam negeri juga terus melanjutkan tren peningkatan signifikan dengan kembali mendapatkan penambahan sebanyak 1,74 juta investor baru month-to-month di April 2026," kata Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK.
Optimisme serupa ditunjukkan oleh pelaku industri manajer investasi meskipun kondisi geopolitik global sedang memanas. Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Eri Kusnadi, menyatakan pihaknya tidak mengubah target yang telah ditetapkan sebelumnya.
"Kami tetap mempertahankan target dana kelolaan kami tahun ini karena masih cukup reasonable dan achievable," kata Eri Kusnadi, Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen.
Keyakinan tersebut bersumber pada proyeksi perbaikan pasar modal mendatang. Faktor pendorong utamanya adalah adanya pengakuan dari MSCI terkait reformasi pasar modal serta isu deeskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat.