Pelemahan Rupiah Terhadap Dollar AS Ancam Sektor Industri dan Lapangan Kerja

Pelemahan Rupiah Terhadap Dollar AS Ancam Sektor Industri dan Lapangan Kerja
Foto: Ilustrasi Pelemahan Rupiah Terhadap Dollar AS Ancam Sektor Industri dan Lapangan Kerja.

Dunia usaha nasional mengkhawatirkan tren pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp17.500 per dollar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (13/5/2026). Kondisi ini dinilai berpotensi memicu lonjakan harga barang konsumsi hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) jika depresiasi berlangsung lama.

Kekhawatiran ini muncul karena tekanan kurs menciptakan rekor terendah baru yang membebani operasional perusahaan, sebagaimana dilansir dari Money. Sejumlah faktor eksternal seperti kenaikan imbal hasil US Treasury dan ketegangan geopolitik global disinyalir menjadi penyebab utama penguatan dollar AS saat ini.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menyatakan bahwa situasi ini menjadi atensi utama para pelaku usaha nasional.

"Kondisi ini berdampak pada hampir seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui tekanan nilai tukar dan meningkatnya capital outflow," ujarnya Shinta Widjaja Kamdani, Ketua Apindo.

Shinta memaparkan bahwa sektor manufaktur sangat terdampak karena 70 persen bahan baku masih bergantung pada impor. Kenaikan harga input secara otomatis menekan margin keuntungan perusahaan.

"Bagi dunia usaha, situasi ini kami lihat sebagai external shock yang memperkuat tekanan pada struktur biaya dan arus kas perusahaan," ucap Shinta Widjaja Kamdani, Ketua Apindo.

Ia menambahkan bahwa dampak ini merembet luas ke berbagai rantai pasok industri hilir, terutama pada sektor yang memiliki ketergantungan impor tinggi.

"Ini menunjukkan adanya cost-push inflation pressure yang tidak hanya terbatas pada satu sektor, tetapi memiliki efek transmisi yang luas ke seluruh rantai pasok," jelas Shinta Widjaja Kamdani, Ketua Apindo.

Tekanan ekonomi ini juga membatasi ruang gerak perusahaan untuk melakukan ekspansi bisnis di tengah daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.

"Dalam kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, ruang untuk melakukan penyesuaian harga juga terbatas, sehingga sebagian tekanan biaya harus diserap oleh pelaku usaha. Ini yang kemudian menekan margin dan memengaruhi keputusan ekspansi maupun penyerapan tenaga kerja," tutur Shinta Widjaja Kamdani, Ketua Apindo.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sarman Simanjorang menilai situasi kurs saat ini telah memengaruhi aspek psikologis dan operasional para pengusaha.

"Pelemahan nilai rupiah ini akan memengaruhi cash flow dan biaya operasional maupun produksi karena kenaikan ini akan mengerek kenaikan bahan baku impor dan logistik," ujar Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia.

Sarman memperingatkan bahwa daya tahan pelaku usaha memiliki batas tertentu sebelum akhirnya terpaksa membebankan biaya tambahan kepada konsumen.

"Jika kenaikan harga produk ini mengalami penyesuaian tentu akan memengaruhi daya beli masyarakat dan inflasi," imbuh Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia.

Selain itu, efisiensi menjadi langkah darurat yang mulai diambil untuk menjaga keberlangsungan usaha, termasuk mencari bahan baku alternatif lokal.

"Jika pelemahan nilai tukar ini berkepanjangan dikhawatirkan omzet pelaku usaha semakin tertekan dan akhirnya melakukan rasionalisasi pekerja, tentu ini sesuatu yang kita hindari," tutur Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia.

Hingga penutupan perdagangan Rabu sore, rupiah di pasar spot sebenarnya mulai menunjukkan penguatan sebesar 53 poin atau 0,30 persen ke posisi Rp17.475 per dollar AS setelah sehari sebelumnya menembus level psikologis Rp17.500.

Artikel terkait

Rekomendasi