Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai masyarakat pedesaan yang tidak menggunakan mata uang dollar AS dalam kehidupan sehari-hari menuai sorotan. Meski warga desa bertransaksi menggunakan rupiah, pergerakan nilai tukar global tetap memengaruhi daya beli mereka melalui rantai harga komoditas.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat merespons kekhawatiran publik mengenai depresiasi mata uang garuda di Nganjuk, Jawa Timur, pada 16 Mei 2026. Seperti dikutip dari Money, kepala negara menegaskan kondisi pangan serta energi nasional masih aman dan terkendali.
Langkah meredam kepanikan pasar memang menjadi tugas pemimpin negara untuk menjaga stabilitas psikologis masyarakat. Namun, melihat aktivitas ekonomi rakyat secara makro tidak sesederhana memantau fisik mata uang yang beredar di kantong warga pedesaan.
Tekanan kurs dollar AS merambah ke desa melalui komponen biaya produksi, bahan baku impor, energi, serta sektor logistik. Petani, nelayan, dan pedagang kecil merasakan efek tersebut ketika harga pupuk, solar, suku cadang, hingga barang distributor mengalami kenaikan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ketergantungan komoditas nasional terhadap pasar luar negeri masih tergolong tinggi. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, akumulasi nilai impor Indonesia telah menyentuh angka 61,30 miliar dollar AS.
Angka tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 10,05 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Impor didominasi oleh bahan baku dan penolong senilai 43,17 miliar dollar AS, diikuti barang modal sebesar 12,98 miliar dollar AS.
Sektor energi juga mencatatkan defisit pada neraca minyak dan gas (migas) sebesar 5,08 milar dollar AS pada triwulan pertama. Distribusi biaya ini menjalar secara berkala dari importir ke tingkat distributor, hingga bermuara pada kenaikan harga eceran di pasar tradisional.
Berdasarkan catatan BPS pada April 2026, inflasi bulanan nasional berada di angka 0,13 persen dengan sektor transportasi sebagai motor penggerak utama. Tarif penerbangan, bensin, minyak goreng, tomat, dan beras menjadi komoditas penyumbang andil inflasi.
Fluktuasi Kurs di Layar Monitor Pasar Valas
Tekanan terhadap mata uang domestik terekam jelas dalam pergerakan pasar valuta asing pertengahan Mei. Bank Indonesia (BI) melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat nilai tukar berada di level Rp 17.415 per dollar AS pada 11 Mei 2026.
Sementara itu, data Bloomberg pada 16 Mei 2026 menunjukkan pergerakan rupiah berada di kisaran Rp 17.596 per dollar AS. Fluktuasi ini berimbas langsung pada komoditas berbahan dasar gandum, kedelai, barang elektronik, obat-obatan, hingga bahan bangunan.
Mitigasi Risiko Ekonomi di Tingkat Pusat dan Daerah
Penurunan nilai tukar memerlukan transparansi mitigasi risiko dari pemerintah guna melindungi kelompok masyarakat rentan dan berpendapatan rendah. Pengawasan rantai distribusi pasokan pangan menjadi prioritas agar pelaku pasar tidak menaikkan harga secara sepihak.
Pemerintah daerah memegang peranan penting dalam memantau pergerakan harga barang pokok, mengelola cadangan pangan, serta menyediakan subsidi logistik. Sinergi kebijakan ini dibutuhkan untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat di wilayah pelosok dan kepulauan.