Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan indeks dolar AS masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik antara AS, Israel, dan Iran.
Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan konflik dengan Iran akan berakhir dengan cepat. Namun, pasar masih berhati-hati karena risiko terganggunya pasokan minyak global akibat konflik di kawasan Timur Tengah masih tinggi.
Menurut Ibrahim, pasar juga mencermati potensi dampak inflasi dari kenaikan harga minyak dunia. Penutupan efektif Selat Hormuz disebut meningkatkan kekhawatiran pasar karena jalur tersebut menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak global.
Menakar Dampak Pidato Ekonomi Prabowo di Rapat Paripurna DPR terhadap IHSG
Arah IHSG bergantung pada pidato Presiden Prabowo hari ini. Akankah pasar menemukan titik stabilisasi atau justru kembali kehilangan arah?
4 BPR Merger Hasilkan Bank Beraset Rp 1,04 Triliun
"Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga," ujar Ibrahim pada Rabu (20/5/2026).
Ibrahim menyebut, data CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun mencapai hampir 50%. Angka tersebut meningkat dibandingkan proyeksi sepekan sebelumnya yang berada di kisaran 35%.
Dari dalam negeri, pasar merespons positif pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR RI terkait target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 di kisaran 5,8% hingga 6,5%. Pemerintah juga menargetkan inflasi berada di rentang 1,5%-3,5%.
Selain itu, pemerintah menargetkan nilai tukar rupiah pada 2027 berada di kisaran Rp 16.800-Rp 17.500 per dolar AS dengan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun di kisaran 6,5%-7,3%.
Sentimen domestik lainnya datang dari keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Sementara suku bunga deposit facility naik menjadi 4,25% dan lending facility menjadi 6,25%.
Menurut BI, langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah serta menjaga sasaran inflasi 2026-2027 di level 2,5% plus minus 1%.
Untuk perdagangan Kamis (21/5/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah di kisaran Rp 17.650-Rp 17.700 per dolar AS.