Core Indonesia Prediksi Sektor Manufaktur Hadapi Tambahan PHK

Core Indonesia Prediksi Sektor Manufaktur Hadapi Tambahan PHK
Foto: Ilustrasi Core Indonesia Prediksi Sektor Manufaktur Hadapi Tambahan PHK.

Laporan lembaga riset Core Indonesia memproyeksikan industri manufaktur nasional berpotensi menghadapi tambahan pemutusan hubungan kerja atau PHK sebesar 15,25 ribu hingga 20,26 ribu pekerja pada kuartal kedua tahun 2026 akibat lonjakan biaya produksi dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Gelombang pengurangan tenaga kerja tersebut diperkirakan belum mencapai puncaknya karena maraknya tekanan eksternal serta gangguan pasokan global, sebagaimana dilansir dari Suara pada Kamis (21/5/2026).

Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, tercatat sebanyak 15.425 pekerja telah terkena PHK sepanjang periode Januari hingga April 2026. Wilayah Jawa Barat menjadi daerah dengan dampak tertinggi yang mencapai 3.339 pekerja, diikuti Kalimantan Selatan sebanyak 1.581 pekerja, Banten sebesar 1.536 pekerja, Jawa Timur sebanyak 1.367 pekerja, dan Kalimantan Timur sebesar 1.237 pekerja.

Meskipun angka resmi tersebut lebih rendah daripada periode yang sama tahun lalu yang menyentuh 39.083 pekerja, ancaman pengurangan staf dinilai kian membesar setelah nilai tukar rupiah sempat melemah hingga Rp17.405 per dolar AS pada Mei 2026.

Survei internal Asosiasi Pengusaha Indonesia menunjukkan bahwa 50 persen perusahaan memutuskan tidak akan melakukan ekspansi dalam lima tahun ke depan, sementara 67 persen pelaku usaha menyatakan tidak berencana menambah karyawan baru.

Konfederasi Serikat Pekerja Nasional menilai angka pemutusan hubungan kerja yang riil di lapangan jauh lebih tinggi daripada data resmi pemerintah akibat adanya perusahaan yang sengaja tidak melaporkan pemangkasan staf demi menjaga hubungan dengan pihak perbankan maupun pembeli.

Selain sektor industri, pengurangan pegawai juga membayangi sektor administrasi daerah di mana pemangkasan transfer ke daerah serta aturan pembatasan belanja pegawai dalam Undang-Undang Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah diproyeksikan memicu rasionalisasi sekitar 10 ribu Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja.

Penurunan daya serap tenaga kerja di sektor manufaktur ini diperburuk oleh pelemahan permintaan global serta dampak konflik perang Iran terhadap rantai pasok yang mendorong penurunan indikator Purchasing ManagersÔÇÖ Index manufaktur ke level terendah dalam 10 bulan terakhir.

Rincian proyeksi tambahan PHK dari Core Indonesia menempatkan sektor manufaktur sebagai penyumbang terbesar dengan ancaman kehilangan pekerjaan bagi 8,7 ribu hingga 12,1 ribu pekerja, disusul sektor jasa sebanyak 3,3 ribu hingga 4,5 ribu pekerja, serta sektor pertanian berkisar 3,3 ribu hingga 3,6 ribu pekerja.

Fenomena efisiensi ini berisiko meningkatkan dominasi sektor informal di Indonesia yang per Februari 2026 telah mencapai 87,74 juta orang atau setara 59,42 persen dari total tenaga kerja aktif, mencerminkan melambatnya pertumbuhan sektor formal yang hanya tumbuh 0,8 persen sepanjang periode 2021-2025.

Artikel terkait

Rekomendasi