Bank sentral China menahan suku bunga acuan pinjaman atau loan prime rate pada Mei 2026 demi menyikapi pelemahan permintaan domestik serta perlambatan aktivitas ekonomi negara tersebut.
Langkah mempertahankan suku bunga ini menjadi keputusan selama 12 bulan berturut-turut yang diambil oleh pihak otoritas moneter setempat, seperti dilansir dari Internasional berdasarkan pengumuman pada Rabu (20/5/2026).
PeopleÔÇÖs Bank of China menetapkan tingkat LPR tenor satu tahun tetap berada pada angka 3,00 persen, sedangkan LPR tenor lima tahun untuk acuan kredit properti tidak bergerak dari level 3,50 persen.
Kebijakan penahanan ini sesuai dengan prediksi 20 pelaku pasar yang disurvei, di mana kondisi likuiditas antarbank yang longgar serta stabilitas suku bunga reverse repo tujuh hari menjadi faktor penentu utama.
Momentum ekonomi domestik dilaporkan mulai menyusut sejak April 2026 akibat penurunan penjualan ritel ke titik terendah dalam tiga tahun terakhir dan pelambatan produksi industri yang dipicu lonjakan biaya energi global.
Analis dari TD Securities memberikan pandangan terkait sikap kehati-hatian bank sentral dalam menerapkan pelonggaran moneter lebih lanjut setelah melihat pergerakan harga produsen terbaru.
"Kami memperkirakan PBOC akan lebih ragu memangkas suku bunga untuk mendorong pertumbuhan setelah kenaikan harga produsen yang mencerminkan risiko inflasi lebih besar," tulis TD Securities.
Lembaga keuangan tersebut memproyeksikan bahwa pemerintah di Beijing nantinya cenderung mengoptimalkan stimulus fiskal yang menyasar sektor investasi infrastruktur dibandingkan melakukan pelonggaran moneter masif.
Di sisi lain, Huatai Securities menyoroti adanya pergeseran arah kebijakan moneter bank sentral yang kini menambahkan frasa baru berupa terarah dan efektif sebelum kalimat moderat longgar pada laporan kuartal pertama.
Penekanan baru dari bank sentral terhadap penguatan fondasi ekonomi domestik mengindikasikan bahwa intensitas kebutuhan akan kebijakan pelonggaran moneter yang luas saat ini sudah mulai berkurang.