Asosiasi Industri Daging Tianjin berkomitmen mengimpor 50.000 ton metrik daging sapi Brasil bersertifikat bebas deforestasi hingga akhir tahun 2026. Langkah ini menandai pergeseran signifikan kebijakan perdagangan China yang mulai memprioritaskan isu lingkungan dibandingkan sekadar harga komoditas murah.
Komitmen tersebut mencakup sekitar 4,5 persen dari total ekspor daging sapi Brasil ke Negeri Tirai Bambu pada tahun ini. Keputusan ini diambil setelah delegasi China mengunjungi kawasan Amazon pada April lalu untuk memantau langsung dampak peternakan terhadap kelestarian hutan, sebagaimana dilansir dari Money.
Ketua Asosiasi Industri Daging Tianjin, Xing Yanling, menyatakan bahwa pola konsumsi masyarakat kini mulai berubah seiring peningkatan pendapatan. Faktor keamanan pangan dan ketertelusuran produk menjadi nilai tambah baru bagi konsumen di pasar domestik China.
"Bukan hanya ÔÇÿmurah itu bagusÔÇÖ," ujar Xing Yanling, Ketua Asosiasi Industri Daging Tianjin.
Ia menambahkan bahwa produk yang memiliki standar ramah lingkungan akan mendominasi pasar di masa depan.
"Ini berarti daging sapi yang bebas deforestasi, ramah lingkungan, aman, dan dapat dilacak akan memiliki pasar yang lebih kuat di masa depan," lanjut Xing Yanling.
Analisis dari platform pemantau dampak lingkungan Trase menunjukkan adanya kesadaran tinggi mengenai hubungan antara komoditas pertanian dan kerusakan hutan. Sektor daging sapi Brasil diidentifikasi sebagai penyumbang utama deforestasi dalam rantai pasok impor China.
"Pada saat yang sama, ada kesadaran, yang didukung oleh informasi yang tersedia, bahwa daging sapi, terutama daging sapi Brasil, adalah komoditas yang paling terkait dengan deforestasi di antara semua komoditas pertanian yang diimpor oleh Tiongkok," kata Andre Vasconcelos, Analis Trase.
Data dari MapBiomas memperkuat kondisi tersebut dengan menunjukkan bahwa 90 persen area hutan yang ditebang di Brasil dialihfungsikan menjadi lahan penggembalaan ternak. Hal ini mendorong perusahaan negara seperti COFCO untuk mulai menghapus praktik deforestasi dari sistem operasional mereka.
Di tingkat peternak, Altair Burlamaqui dari peternakan Carioca mengaku terkejut dengan keseriusan delegasi China dalam membahas aspek keberlanjutan. Ia menilai pasar China kini mencari nilai tambah bagi segmen penduduk tertentu yang memiliki daya beli lebih tinggi.
"Yang saya pahami dari percakapan dengan mereka adalah bahwa mereka menginginkan produk dengan nilai tambah lebih bagi sebagian penduduk mereka yang bersedia membayarnya," kata Altair Burlamaqui, Peternak.
Potensi pasar ini dianggap sangat besar mengingat jumlah populasi China yang masif.
"Tetapi sebagian penduduk mereka mungkin lebih besar daripada seluruh penduduk Brasil," tambah Altair Burlamaqui.
Meskipun demikian, Asosiasi Eksportir Daging Sapi Brasil (ABIEC) memberikan respons hati-hati terhadap tuntutan standar baru ini. Mereka khawatir persyaratan tambahan tersebut justru menjadi hambatan baru di tengah persaingan pasar yang sudah ketat.
"Mendukung inisiatif yang berfokus pada sertifikasi tetapi menganggap bahwa label baru apa pun harus selaras dengan sistem yang sudah ada, menghindari tumpang standar dan persyaratan yang kurang memiliki infrastruktur publik untuk implementasi, yang dapat menciptakan potensi hambatan bagi produksi," tulis ABIEC dalam pernyataannya.
Sertifikasi bertajuk Beef on Track yang dikembangkan oleh Imaflora diproyeksikan menjadi solusi untuk menjamin keamanan dan asal-usul ternak. Program ini ditargetkan mulai digunakan secara luas oleh peritel dan perusahaan pengemasan daging pada akhir tahun ini.
"Industri masih berusaha memahami bagaimana sertifikasi ini dapat mengakui dan menghargai produk-produk Brasil, dalam skenario ketegangan geopolitik," kata Marina Guyot, Manajer Kebijakan Imaflora.
Sistem ini diharapkan mampu memberikan apresiasi lebih terhadap upaya pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh produsen.
"Ini adalah sertifikasi yang menciptakan kemungkinan untuk menghargai upaya ini," lanjut Marina Guyot.
Pemerintah China sendiri telah memperketat regulasi dengan menerapkan kuota impor daging sapi sebesar 1,1 juta ton untuk tahun ini. Jika pengiriman Brasil melampaui batas tersebut, maka akan dikenakan tarif masuk sebesar 55 persen.