Produsen otomotif asal Tiongkok, Chery, mengadopsi strategi operasional bernama Double T guna memperkokoh penetrasi bisnis di pasar internasional, khususnya wilayah Eropa pada Rabu (29/4/2026). Perusahaan menggabungkan standar kualitas produksi manufaktur Jepang dengan inovasi teknologi kendaraan listrik modern.
Langkah strategis ini diambil untuk menyeimbangkan aspek ketahanan produk dengan kemajuan fitur digital yang kian diminati konsumen global. Sebagaimana dilansir dari Suara, emiten otomotif ini berupaya mengejar ketertinggalan volume penjualan dari pesaing domestik utamanya di pasar dunia.
Ketua Chery, Yin Tongyue, menjelaskan bahwa pendekatan ini terinspirasi langsung dari keberhasilan dua raksasa industri, yakni Toyota dan Tesla. Penegasan mengenai filosofi perusahaan tersebut disampaikan guna menjamin loyalitas konsumen melalui kualitas tinggi sekaligus memikat pasar generasi muda.
"Kami menyebut strategi ini ÔÇÿdouble TÔÇÖ, yaitu Toyota ditambah Tesla," kata Yin Tongyue, Ketua Chery.
Selain strategi pemasaran, pihak manajemen saat ini sedang mengkaji rencana penambahan kapasitas produksi melalui skema perusahaan patungan di Barcelona, Spanyol. Yin menilai bahwa membangun basis produksi lokal merupakan elemen krusial untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok dibandingkan hanya bergantung pada ekspor dari Tiongkok.
"Kami bisa berbagi keuntungan, kami bisa berbagi model," kata Yin Tongyue mengenai potensi kerja sama dengan mitra di Eropa.
Data kinerja menunjukkan volume penjualan global Chery telah melonjak hampir empat kali lipat dalam kurun waktu lima tahun terakhir hingga mencapai 2,8 juta unit pada 2025. Perusahaan kini mengandalkan dua merek global baru, Omoda dan Jaecoo, untuk mencapai target ambisius satu juta unit penjualan gabungan pada tahun 2027.