Kinerja Keuangan Positif, Central Omega Resources Raih Penghargaan Bergengsi 2026

Kinerja Keuangan Positif, Central Omega Resources Raih Penghargaan Bergengsi 2026
Foto: Ilustrasi Kinerja Keuangan Positif, Central Omega Resources Raih Penghargaan Bergengsi 2026.

Emiten pertambangan nikel, PT Central Omega Resources Tbk (DKFT), menyabet penghargaan The Best Investortrust Companies 2026 untuk kategori Small Cap. Apresiasi tersebut diberikan dalam ajang penghargaan yang berlangsung di Hotel Aryaduta, Jakarta, pada Selasa (26/5/2026).

Pencapaian ini berhasil diraih berkat performa finansial perseroan yang tumbuh positif sepanjang tahun buku 2025. Seperti dikutip dari Investortrust, emiten berkode saham DKFT ini membukukan laba bersih senilai Rp574,39 miliar, atau melonjak 38,44% dari perolehan tahun 2024 yang sebesar Rp414,9 miliar.

Stabilitas harga nikel di pasar global serta tingginya permintaan pasar menjadi faktor utama penyokong lonjakan laba bersih tersebut. Volume produksi nikel perseroan dilaporkan bertahan stabil di angka 2,92 juta ton, sedangkan volume penjualan terkerek naik 16,60% menjadi 3,03 juta ton.

Pertumbuhan ini ikut mendorong pendapatan perseroan menyentuh angka Rp1,58 triliun, meningkat 7,87% dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang bernilai Rp1,47 triliun. Di sisi lain, EBITDA DKFT melesat 37,07% secara tahunan (year on year) menjadi Rp769,61 miar.

Hingga posisi 31 Desember 2025, total aset yang dimiliki PT Central Omega Resources Tbk juga mengalami ekspansi sebesar 21,58%. Aset perseroan tercatat naik menjadi Rp3,09 triliun dari periode sebelumnya yang sebesar Rp2,54 triliun.

Perusahaan yang berdiri sejak 1995 ini mulai merambah bisnis pertambangan bijih nikel pada 2008 dan menginisiasi ekspor perdana ke luar negeri di tahun 2011. Wilayah operasional tambang nikel DKFT berada di Morowali, Sulawesi Tengah, serta Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

Dalam rangka mematuhi mandat hilirisasi yang tertuang dalam Undang-Undang Minerba Nomor 4 Tahun 2009, perseroan membangun smelter feronikel (FeNi) di Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Proyek ini dijalankan lewat perusahaan patungan PT COR Industri Indonesia, hasil kerja sama dengan PT Macrolink Nickel Development.

Langkah strategis pengoperasian smelter ini bertujuan memperkuat nilai tambah komoditas mineral sekaligus menerapkan praktik tambang berkelanjutan. Pada fase awal, fasilitas pengolahan tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas produksi mencapai 100.000 ton Nickel Pig Iron (NPI) per tahun.

Artikel terkait

Rekomendasi