Pabrik produsen otomotif asal China, BYD, di Subang, Jawa Barat, saat ini memasuki fase akhir integrasi peralatan manufaktur sebelum memulai produksi massal kendaraan listrik. Langkah ini diambil guna memenuhi target operasional dan permintaan pasar domestik pada tahun 2026, Kamis (23/4/2026).
Fokus utama perusahaan saat ini tertuju pada penyelesaian seluruh pengujian fasilitas produksi. Penegasan mengenai kesiapan tersebut disampaikan oleh Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther T Panjaitan, sebagaimana dilansir dari Suara.
"Kami sudah sampai di tahap-tahap akhir untuk sesegera mungkin melakukan produksi secara massal," ujar Luther T Panjaitan, Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia.
Integrasi peralatan pabrik yang membutuhkan ketelitian tinggi menjadi salah satu tantangan teknis yang tengah diselesaikan pihak manajemen. Hal ini bertujuan agar seluruh unit kendaraan yang keluar dari lini produksi memenuhi standar kelayakan manufaktur yang ketat.
"Dalam proses manufaktur itu, khususnya mengintegrasikan equipment dibutuhkan waktu yang cukup panjang dan kami harus memastikan produk yang diproduksi dari fasilitas kami ini 100 persen secara kualitas itu memenuhi standar," kata Luther T Panjaitan.
Pihak BYD mengklaim progres pembangunan telah mendekati penyelesaian karena perusahaan sudah mengantongi berbagai izin operasional yang diperlukan. Sertifikasi tersebut mencakup aspek teknis kendaraan maupun kelayakan fasilitas manufaktur di lokasi.
"Beberapa sertifikat penting kita sudah dapatkan seperti sertifikat IKD untuk kendaraan yang akan diproduksi. Kita juga sudah mendapatkan sertifikat LCEV dan beberapa sertifikat standar untuk kelayakan manufaktur," kata Luther T Panjaitan.
Selain kesiapan mesin, perusahaan juga mulai menyerap tenaga kerja lokal secara agresif untuk mengisi posisi di lini produksi. Langkah ini merupakan strategi perusahaan dalam mengejar jadwal produksi massal yang telah ditetapkan.
"Untuk early stage ini tentunya berfokus di sisi produksi, di manufaktur, apalagi kita mengejar tahun ini harus berproduksi untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam negeri," pungkas Luther T Panjaitan.