PT BYD Motor Indonesia menyiapkan strategi investasi jangka panjang guna mengantisipasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang memukul sektor otomotif nasional. Kesiapan tersebut disampaikan di Tangerang, Banten, pada Senin (18/5/2026) malam seiring merosotnya mata uang garuda ke titik terendah sepanjang sejarah.
Kondisi eksternal yang kurang menguntungkan ini berdampak langsung pada rantai pasok industri yang masih bergantung pada bahan baku impor, sebagaimana dilansir dari Industri. Kendati demikian, pemantauan terhadap pergerakan pasar dan situasi geopolitik global terus dilakukan secara intensif oleh pihak manajemen.
Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan menjelaskan bahwa komitmen penanaman modal di dalam negeri menjadi landasan utama perusahaan dalam menghadapi fluktuasi ekonomi saat ini.
"Kita mengerti betul, tapi bagi BYD karena kita sudah memutuskan untuk berinvestasi jangka panjang," ujar Luther di Tangerang, Banten, Senin (18/5/2026) malam.
Pihak BYD mengharapkan ketegangan geopolitik yang terjadi di tingkat global dapat segera mereda dalam waktu dekat. Perusahaan mengkhawatirkan dampak berantai dari ketidakpastian ekonomi tersebut terhadap daya beli masyarakat Indonesia secara umum.
"Yang kita harapkan adalah jangan sampai hal yang berkepanjangan dan tidak baik ini berdampak pada daya beli," kata Luther.
Mengenai proyeksi kinerja korporasi, manajemen belum bersedia membeberkan target riil penjualan kendaraan untuk periode kuartal II-2026. Langkah taktis ke depan akan difokuskan pada pengenalan model baru serta optimalisasi infrastruktur perakitan lokal yang sudah tersedia.
"Tentunya kita secara angka kita belum spesifik sampaikan tapi dengan bertambahnya produk baru kita ini dan dalam waktu dekat kami akan memanfaatkan fasilitas produksi kami yang ada," ucap Luther.