Berbagai elemen pekerja yang terdiri dari buruh, pedagang, hingga pengemudi ojek online menyuarakan aspirasi kesejahteraan dalam peringatan Hari Buruh Internasional di kawasan Monumen Nasional, Jakarta Pusat, pada Jumat (1/5/2026). Massa menuntut penyesuaian upah layak dan stabilitas harga kebutuhan pokok sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Kehadiran massa di jantung ibu kota ini juga diikuti oleh para pekerja dari luar daerah yang menempuh perjalanan ratusan kilometer. Mereka membawa harapan agar pemerintah memberikan perhatian lebih nyata terhadap kondisi ekonomi masyarakat kecil di tengah kenaikan harga komoditas utama.
Rombongan asal Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menjadi salah satu kelompok yang hadir setelah menempuh jarak sekitar 382 kilometer. Perwakilan rombongan, Zuratman, menjelaskan bahwa dirinya berangkat menggunakan bus pada Kamis (30/4/2026) malam demi mengikuti aksi ini untuk pertama kalinya.
ÔÇ£Iya, ini pertama kalinya saya ikut langsung ke Jakarta. Biasanya cuma lihat di TV saja. Mendadak diajak ke sini sama rekan rekan buruh,ÔÇØ ucap Zuratman saat berbincang dengan Kompas.com, Jumat.
Zuratman menekankan bahwa beban hidup semakin berat akibat kenaikan harga pangan yang tidak dibarengi dengan peningkatan pendapatan buruh secara signifikan.
ÔÇ£Pengen buruh sejahtera, harga bahan pokok gak naik. Intinya sembako murah lah. Yang penting perhatian sama warga. Selama ini bahan pokok naik kita mah ngikut aja tapi lebih baik dimurahin lah,ÔÇØ ungkap Zuratman.
Selanjutnya, pria berusia 60 tahun tersebut mendesak pemerintah agar segera mengeluarkan kebijakan yang lebih protektif terhadap hak-hak dasar para pekerja kasar.
ÔÇ£Pokoknya pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan buruh, upah yang layak, sama jaminan kerja yang lebih baik,ÔÇØ lanjut Zuratman.
Selain sektor industri, pengemudi ojek online (ojol) turut menuntut realisasi janji pemerintah terkait pemangkasan potongan komisi aplikator yang saat ini dinilai terlalu besar. Novita Meliana Pratiwi, pengemudi asal Pademangan, datang bersama rekan-rekannya untuk menyoroti beban operasional mereka.
ÔÇ£Kami dari Pademangan, ada 11 orang. Semua fokus di ojol, enggak ada kerja sampingan,ÔÇØ ujar Novita di lokasi.
Novita berharap komitmen penurunan potongan komisi menjadi di bawah 10 persen dapat segera diberlakukan karena skema saat ini sangat menggerus pendapatan harian.
ÔÇ£Kalau harapan kami, potongan itu benar-benar diturunkan jadi 10 persen, atau bahkan di bawah itu. Karena sekarang ini berat sekali,ÔÇØ kata Novita.
Ibu dua anak ini merinci bahwa sistem pemotongan yang diterapkan saat ini bersifat akumulatif sehingga membebani pengemudi yang mengejar target harian.
ÔÇ£Setiap satu orderan kita dipotong sama kantor 20 persen. Per 10 orderan kita masih dipotong lagi 20 persen. Jadi dia diakumulasikan. 1 sampai 2 orderan dipotong Rp 3.000. 3 sampai 4 orderan dipotong Rp 8.500. 5 sampai 6 orderan dipotong Rp 13.500. 7, 8, 9 itu dipotong Rp 18.000,ÔÇØ kata Novita.
Isu perlindungan keamanan bagi pengemudi perempuan juga menjadi sorotan, terutama efektivitas fitur penyaring penumpang yang dianggap belum bekerja maksimal.
ÔÇ£Katanya ada filter penumpang perempuan, tapi tetap saja masih diselipi penumpang laki-laki. Jadi kurang efektif,ÔÇØ ujarnya.
Senada dengan rekannya, pengemudi ojol asal Tanjung Priok, Inayah, menyoroti korelasi antara besaran potongan tarif dengan waktu kerja yang harus dihabiskan di jalanan.
ÔÇ£Kalau potongannya besar, kita harus narik lebih lama. Kadang sampai malam, padahal di rumah ada anak yang harus diurus,ÔÇØ ujar Inayah.
Ia menegaskan perlunya perlindungan komprehensif dari pemerintah mengingat risiko tinggi yang dihadapi pengemudi perempuan saat bekerja hingga larut malam.
ÔÇ£Keselamatan juga penting. Kita di jalan itu banyak risiko, apalagi perempuan. Jadi pengennya ada perhatian lebih dari pemerintah,ÔÇØ ungkap Inayah.