Bursa Saham AS Cetak Rekor Baru Berkat Data Tenaga Kerja April 2026

Bursa Saham AS Cetak Rekor Baru Berkat Data Tenaga Kerja April 2026
Foto: Ilustrasi Bursa Saham AS Cetak Rekor Baru Berkat Data Tenaga Kerja April 2026.

Pasar modal Amerika Serikat kembali menembus rekor tertinggi pada penutupan perdagangan Jumat, 9 Mei 2026 waktu setempat. Lonjakan ini dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan yang melampaui estimasi pasar, meski ketegangan geopolitik dengan Iran masih membayangi situasi global.

Indeks S&P 500 tercatat menguat 0,8 persen hingga mencapai level tertinggi sepanjang sejarah. Sementara itu, Nasdaq Composite melonjak tajam 1,7 persen untuk mencetak rekor baru, sedangkan Dow Jones Industrial Average hanya mengalami penambahan tipis sebanyak 12 poin atau di bawah 0,1 persen.

Dilansir dari Money, data resmi menunjukkan bahwa sektor korporasi di Amerika Serikat berhasil menciptakan sekitar 115.000 lapangan kerja baru selama April 2026. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi awal para ekonom meskipun secara volume lebih rendah dari capaian Maret.

Kinerja pasar tenaga kerja ini dinilai cukup tangguh untuk meredam kekhawatiran pelaku pasar mengenai potensi perlambatan ekonomi akibat konflik bersenjata di Timur Tengah. Penguatan ini sekaligus membawa S&P 500 mencatatkan reli kenaikan selama enam pekan berturut-turut, durasi terpanjang sejak tahun 2024.

Investor masih menaruh harapan agar konflik dengan Iran tidak meluas menjadi krisis ekonomi global yang masif. Fokus pasar tertuju pada pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh guna menormalisasi distribusi pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia.

Namun, stabilitas keamanan di wilayah tersebut masih sangat rentan. Pada perdagangan Jumat, militer Amerika Serikat dilaporkan terlibat baku tembak yang berujung pada pelumpuhan dua kapal tanker milik Iran di Selat Hormuz.

Insiden bersenjata tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai ketahanan gencatan senjata yang sebelumnya telah berjalan selama satu bulan. Kondisi ini langsung memberikan tekanan pada harga energi di pasar internasional.

Harga minyak mentah jenis Brent terpantau terkerek naik 1,2 persen menuju angka 101,29 dollar AS per barel, atau setara Rp 1,76 juta dengan asumsi kurs Rp 17.377 per dollar AS. Meskipun naik, angka ini masih di bawah rekor puncak perang yang pernah menyentuh 119 dollar AS per barel.

Laporan Laba Perusahaan Topang Sentimen Wall Street

Selain data makroekonomi, rapor keuangan emiten pada awal 2026 turut memberikan energi positif bagi bursa saham. Saham Monster Beverage melonjak signifikan sebesar 13,6 persen setelah membukukan laba dan pendapatan yang melampaui ekspektasi pasar.

Pertumbuhan produsen minuman energi tersebut didorong oleh ekspansi pasar internasional yang kini berkontribusi sebesar 45 persen dari total pendapatan perusahaan. Capaian ini menjadi proporsi penjualan luar negeri tertinggi dalam sejarah mereka.

Sektor teknologi juga mencatatkan kinerja gemilang, di mana saham Akamai Technologies meroket hingga 26,6 persen. Perusahaan keamanan siber ini baru saja mengamankan kontrak layanan cloud senilai 1,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 31,27 triliun untuk durasi tujuh tahun ke depan.

Akamai menjadi salah satu entitas yang diuntungkan oleh masifnya investasi pada sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Sebaliknya, saham CoreWeave justru terjerembab 11,4 persen meskipun mencatatkan pertumbuhan pendapatan hingga dua kali lipat.

Penurunan saham penyedia komputasi AI ini disebabkan oleh angka kerugian bersih yang lebih besar dari perkiraan analis. Selain itu, prospek pendapatan untuk kuartal mendatang juga dianggap kurang memuaskan oleh para pelaku pasar.

Performa Bursa Global dan Pasar Obligasi

Kontras dengan kinerja di Wall Street, mayoritas bursa saham di wilayah Asia dan Eropa justru berakhir di zona merah. Indeks DAX di Jerman mengalami pelemahan 1,3 persen, sementara indeks Hang Seng di Hong Kong terkoreksi 0,9 persen.

Korea Selatan tampil berbeda sebagai pengecualian di wilayah Asia dengan indeks Kospi yang menguat tipis 0,1 persen hingga mencetak rekor tertinggi. Di pasar surat utang, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke level 4,36 persen dari posisi sebelumnya 4,41 persen.

Penurunan imbal hasil ini terjadi di tengah data sentimen konsumen dari Universitas Michigan yang masih lemah akibat lonjakan harga bahan bakar dan tarif perdagangan. Secara teori, imbal hasil yang lebih rendah dapat menekan beban bunga kredit rumah serta pinjaman dunia usaha.

Meskipun sedang dalam tren menurun, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun ini masih berada di level yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan masa sebelum konflik Iran pecah. Saat itu, tingkat imbal hasil obligasi tersebut masih berada di kisaran 3,97 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi