Suku bunga yang diprediksi menurun pada tahun 2024 hingga 2025 diperkirakan bakal memicu lonjakan imbal hasil reksa dana pendapatan tetap dan campuran di Indonesia. Proyeksi ini muncul seiring dengan ekspektasi pasar global terhadap pelonggaran kebijakan moneter yang dilansir dari Investortrust.
Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto memaparkan optimisme tersebut dalam diskusi industri reksa dana yang berlangsung di Jakarta pada Senin (18/09/2023). Menurutnya, instrumen berbasis obligasi akan menjadi penggerak utama dalam periode transisi ekonomi tersebut.
"2024 dan 2025 hampir bisa dipastikan menjadi era penurunan tingkat suku bunga. Saat itu terjadi, reksa dana akan bertumbuh dimotori reksa dana pendapatan tetap dan campuran," ujar Rudiyanto, Direktur PT Panin Asset Management.
Rudiyanto menambahkan bahwa ruang bagi penyesuaian suku bunga masih sangat terbuka lebar yang akan memberikan dampak positif bagi pasar modal secara keseluruhan.
"Bayangkan ada peluang penurunan suku bunga dari 5% ke 3,5%. Berarti terbuka peluang penurunan besar," ungkap Rudiyanto, Direktur PT Panin Asset Management.
Peningkatan ini diharapkan mampu memulihkan industri setelah sempat mengalami tekanan Nilai Aktiva Bersih (NAB) pada periode 2020-2023. Selain faktor pandemi, keengganan investor institusi seperti asuransi dan dana pensiun akibat sejumlah kasus di pasar modal turut menjadi penyebab lesunya investasi sebelumnya.
Kebutuhan perbankan nasional akan likuiditas untuk penyaluran kredit juga sempat membuat dana nasabah beralih dari reksa dana ke produk perbankan. Namun, pengetatan regulasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diyakini akan mengembalikan kepercayaan pasar terhadap manajer investasi yang patuh pada aturan.
"Tapi, di satu sisi, saya melihat selama satu tahun terakhir, regulasi menjadi lebih ketat. OJK memperketat regulasi setelah sejumlah kejadian tersebut. Manajer investasi yang kerjanya benar dan susuai aturan, diprediksi akan mencetak pertumbuhan NAB ke depan," terang Rudiyanto, Direktur PT Panin Asset Management.
Data OJK menunjukkan tren pemulihan mulai terlihat sejak Mei 2023 di mana NAB reksa dana nasional naik menjadi Rp 504,69 triliun. Angka ini terus tumbuh hingga mencapai Rp 521,73 triliun pada akhir Agustus 2023, meskipun masih di bawah pencapaian tertinggi pada tahun 2021 yang menembus Rp 578,43 triliun.
| Tahun | NAB (Triliun Rupiah) | Jumlah Produk | Unit Penyertaan (Miliar UP) |
|---|---|---|---|
| 2019 | 542,19 | 2.181 | 424,79 |
| 2020 | 573,43 | 2.219 | 435,14 |
| 2021 | 578,43 | 2.198 | 420,66 |
| 2022 | 504,86 | 2.120 | 376,25 |
| Agustus 2023 | 521,73 | 1.952 | 386,13 |
Reksa dana pendapatan tetap saat ini masih mendominasi pasar dengan kontribusi sebesar Rp 149,28 triliun per Agustus 2023. Di posisi berikutnya, reksa dana terproteksi menggeser posisi reksa dana saham dengan nilai kelolaan Rp 102,43 triliun.
Dominasi pengelolaan dana juga terpantau masih terpusat, di mana 20 manajer investasi menguasai 88,8% dari total dana kelolaan nasional. Saat ini terdapat total 95 manajer investasi yang terdaftar secara resmi di Otoritas Jasa Keuangan.