Transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dilaporkan menjadi faktor krusial yang menyokong pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026. Capaian ini didorong oleh performa kuat kelompok perusahaan negara berkapitalisasi besar di berbagai sektor strategis.
Dilansir dari Detik Finance, Managing Partner BUMN Research Group LM FEB Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto menyebutkan bahwa kontribusi ekonomi nasional saat ini masih sangat bergantung pada aktivitas perusahaan BUMN kategori blue chips.
"Menurut saya sebagian besar kontributor terhadap pertumbuhan ekonomi masih didominasi blue chips BUMN seperti Himbara yang mendorong transaksi ekonomi tumbuh," ujar Toto di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Perbankan yang tergabung dalam Himbara dinilai memiliki posisi vital dalam menjaga ketersediaan likuiditas. Selain sektor keuangan, sektor energi, telekomunikasi, serta pertambangan melalui Mind ID turut memberikan pengaruh besar terhadap penerimaan negara.
"MIND ID yang kontribusi ekspor dan penerimaan valas tinggi, serta menumbuhkan bisnis hilirisasi," sambung Toto.
Aktivitas ekspor dan perolehan devisa dari sektor pertambangan tersebut dianggap memperkuat daya tahan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global. Toto juga menyoroti peran PT Pertamina dan PT Telkom Indonesia dalam membangun fondasi ekonomi modern melalui konektivitas digital dan ketahanan energi.
Meskipun demikian, Toto memberikan catatan bahwa kontribusi BUMN belum merata secara keseluruhan karena masih terpusat pada segmen perusahaan besar. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan performa antara perusahaan raksasa dengan BUMN lainnya.
"Hal ini menggambarkan peran BUMN lainnya di luar kelompok blue chips tidak optimal," lanjut Toto.
Potensi kontribusi perusahaan pelat merah sebenarnya diyakini bisa meningkat signifikan melalui percepatan investasi di sektor hilir. Fokus pada industri yang memberikan nilai tambah tinggi, seperti ekosistem kendaraan listrik, dipandang sebagai langkah strategis masa depan.
"Kontribusi BUMN bisa lebih tinggi apabila mereka bisa lebih banyak investasi di hilir dengan nilai tambah lebih tinggi. Misal, percepatan pembangunan pabrik baterai EV oleh konsorsium IBC yang didominasi BUMN, maka kontribusi perusahaan negara bisa lebih besar," ucap Toto.
Terkait keberadaan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara), Toto melihat lembaga ini masih dalam tahap penguatan internal. Saat ini, fokus Danantara masih tertuju pada upaya perbaikan struktur perusahaan-perusahaan yang tengah menghadapi kendala finansial.
"Setelah ada Danantara, BUMN yang berkibar relatif ada di sektor blue chips saja. Danantara juga di periode ini sibuk dengan restrukturisasi, misal Garuda atau beberapa BUMN Karya," kata Toto.