PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang dapat diatribusikan sebesar 20,1 persen menjadi $81 juta atau setara Rp 1,35 triliun sepanjang tahun 2025. Capaian ini diraih di tengah tantangan penurunan dua digit pada harga jual rata-rata komoditas batubara.
Dilansir dari Investortrust, perusahaan pengekspor batubara termal terbesar di dunia ini melaporkan kinerja keuangan tersebut pada Senin, 30 Maret 2026. Laba tahun berjalan ini meningkat signifikan dibandingkan perolehan tahun sebelumnya yang sebesar $67,47 juta.
Pertumbuhan laba tetap terjadi meski kondisi pasar bahan bakar fosil sedang mengalami tekanan. Pendapatan BUMI tercatat naik 4,8 persen menjadi $1,42 miliar atau sekitar Rp 23,82 triliun berdasarkan struktur pelaporan perusahaan.
Namun, jika melihat gambaran konsolidasi secara luas, pendapatan perusahaan sebenarnya mengalami penyusutan sebesar 15,9 persen menjadi $4,8 miliar. Perbedaan ini disebabkan oleh metode akuntansi ekuitas (PSAK 111) pada unit usaha utamanya, Kaltim Prima Coal (KPC).
Pencapaian BUMI menjadi studi kasus penting dalam manajemen pertambangan yang defensif. Saat harga batubara global mulai mendingin dari level tertinggi bersejarah, fokus perusahaan bergeser dari ekspansi menjadi efisiensi biaya yang agresif.
"Meskipun menghadapi kondisi pasar yang menantang dan penurunan harga batubara, Bumi Resources berhasil mencatatkan profitabilitas operasional yang positif dengan margin yang meningkat," kata manajemen dalam pernyataan resminya.
Data keuangan menunjukkan beban pokok pendapatan turun 1,2 persen, yang mendorong laba kotor melonjak 47,1 persen menjadi $249,1 mililar. Angka paling mencolok adalah laba operasional yang meroket 131,4 persen menjadi $141,3 juta.
Melalui penghematan pada biaya administrasi dan operasional, margin operasi perusahaan meningkat lebih dari dua kali lipat. Angka margin tercatat naik dari 4,5 persen menjadi 9,9 persen secara tahunan.
Penurunan Rasio Pengupasan
Dari sisi teknis di lapangan, BUMI menjaga stabilitas volume produksi pada angka 74,8 juta metrik ton. Jumlah ini hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 0,2 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Langkah efisiensi utama dilakukan dengan memangkas aktivitas pemindahan lapisan tanah penutup atau overburden sebesar 8 persen menjadi 596,2 juta bank cubic meters. Strategi ini berhasil menurunkan strip ratio dari 8,7 menjadi 8,0.
Penurunan rasio pengupasan tanah tersebut menjadi pendorong utama dalam perbaikan margin keuntungan. Hal ini krusial karena harga jual rata-rata (FOB) batubara merosot hingga 17 persen menjadi $59,7 per ton.
Meskipun entitas induk terlihat lebih ramping dan menguntungkan, laba bersih konsolidasi yang mencakup seluruh operasi KPC turun 5,3 persen menjadi $161,8 juta akibat anjloknya harga pasar. Persediaan batubara perusahaan tercatat mencapai 2 juta metrik ton pada akhir tahun untuk menghadapi fluktuasi rantai pasok di 2026.