Perum Bulog memastikan distribusi MinyaKita terus dilakukan secara konsisten pada Jumat (1/5/2026) untuk menjaga kestabilan harga dan pasokan di pasar nasional. Langkah ini merupakan bagian dari penugasan negara dalam mengelola stok minyak goreng rakyat agar tetap terjangkau oleh masyarakat luas.
Direktur Operasi Perum Bulog, Andi Afdal, menyatakan bahwa penyaluran dilakukan melalui berbagai jaringan distribusi yang luas. Dilansir dari Money, upaya tersebut bertujuan agar titik penyebaran produk mencakup wilayah terpencil sekalipun dengan harga yang tetap terkendali.
ÔÇ£Distribusi MinyaKita tetap kami jalankan secara terukur dan berkelanjutan,ÔÇØ kata Andi Afdal, Direktur Operasi Perum Bulog.
Pihak Bulog mengakui adanya tantangan geografis yang cukup besar dalam proses distribusi, terutama di wilayah Indonesia Timur. Untuk mengatasi hambatan tersebut, penguatan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan terus dilakukan demi menjamin kelancaran pengiriman ke daerah-daerah sulit.
ÔÇ£Bulog juga terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan kelancaran pasokan di berbagai wilayah terlebih di wilayah yang memiliki tantangan medan distribusi seperti di Indonesia,ÔÇØ tutur Andi Afdal, Direktur Operasi Perum Bulog.
Selain perbaikan alur distribusi, kapasitas gudang penyimpanan minyak goreng saat ini juga terus ditingkatkan oleh Bulog. Penambahan kapasitas ini diharapkan mempermudah akses masyarakat terhadap MinyaKita di berbagai pelosok daerah.
ÔÇ£Bulog akan terus hadir menjalankan mandat pemerintah dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pangan bagi masyarakat,ÔÇØ ucap Andi Afdal, Direktur Operasi Perum Bulog.
Kondisi di lapangan sempat menunjukkan adanya kendala stok pada Senin (27/4/2026) yang disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi. Keterbatasan ini dipicu oleh belum adanya tambahan pasokan baru dari pihak produsen kepada Bulog untuk kategori komersial.
ÔÇ£Untuk stok MinyaKita komersial di beberapa wilayah memang sangat terbatas, belum ada tambahan pasokan lagi dari produsen,ÔÇØ kata Wawan, perwakilan Bulog.
Masalah logistik juga menjadi sorotan, terutama di wilayah kepulauan dan pegunungan seperti Papua yang memerlukan biaya tinggi. Distribusi ke wilayah pegunungan harus melalui titik transit di Jayapura sebelum bisa disalurkan ke lokasi tujuan.
"Beberapa wilayah juga belum terjangkau karena tadi yang kami sampaikan seperti beras, gudang Bulog tidak berada, tidak ada di seluruh wilayah, jadi ini cukup menghambat," tutur Wawan, perwakilan Bulog.
Di sisi lain, Kementerian Perdagangan mencatat realisasi penyaluran MinyaKita melalui BUMN Pangan pada Selasa (28/4/2026) telah melampaui target minimal. Berdasarkan aturan, produsen wajib menyalurkan setidaknya 35 persen produknya melalui kanal pemerintah.
ÔÇ£Di atas kewajiban minimal 35 persen,ÔÇØ kata Iqbal Shoffan Shofwan, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Dirjen PDN).