Bukit Peramun Tawarkan Wisata Hutan Digital Berbasis Masyarakat

Bukit Peramun Tawarkan Wisata Hutan Digital Berbasis Masyarakat
Foto: Ilustrasi Bukit Peramun Tawarkan Wisata Hutan Digital Berbasis Masyarakat.

Destinasi wisata di Belitung kini menawarkan pengalaman unik di luar keindahan pantai melalui Desa Wisata Bukit Peramun. Lokasi yang berada di Desa Air Selumar ini memungkinkan pengunjung menyusuri hutan alami hingga berinteraksi dengan satwa Tarsius.

Dikutip dari Money, kawasan ini tidak hanya menyajikan kegiatan trekking biasa karena setiap pohon dilengkapi dengan informasi interaktif. Pengelola memanfaatkan teknologi untuk membuat ekosistem hutan seolah bisa berbicara langsung kepada para wisatawan.

Masyarakat lokal telah mengelola kawasan ini secara mandiri sejak 2006, namun transformasi digital baru dimulai pada 2023. Langkah inovatif ini diambil untuk mengatasi kendala pemandu dalam menyampaikan informasi secara berulang kepada tamu.

"Mereka tahu ini batang apa, ini pohon apa, tanaman apa. Tapi pada saat dia mendampingi para tamu, agak kesulitan secara verba. Dan juga kalau sudah mengantar tamu 1, 2, 3 kali, dia akan menjelaskan agak susah lagi," ujar IT Support Bukit Peramun Wahyu Ramadhan, Sabtu (25/4/2026).

Sistem edukasi ini menggunakan aplikasi Android bernama Kepo (Kenali Pohon) yang menggantikan metode pemindaian barcode konvensional. Melalui aplikasi tersebut, pengunjung cukup memindai titik penanda pada pohon untuk mendapatkan penjelasan visual dan audio.

Wahyu menjelaskan bahwa inovasi ini bertujuan memperkenalkan jenis tanaman secara lebih interaktif melalui bantuan visual dan suara. "Jadi kita mengenalkan secara interaktif, ini batang ini lho dengan ada gambar robot, ada pembacaan audionya, ada pembacaan latinnya. Sehingga informasi yang ingin kita sampaikan itu masuk dibandingkan dengan kita pakai yang barcode," jelasnya.

Keberhasilan integrasi teknologi ini membawa Bukit Peramun meraih rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai Hutan Digital Pertama Berbasis Masyarakat. Selain kecanggihan teknologi, jalur trekking di sini juga dihiasi pemandangan batu granit raksasa yang disebut batu kembar.

Aspek konservasi tetap menjadi prioritas utama dalam penerapan teknologi digital di kawasan hutan ini. Penanda pada pohon tidak dipasang menggunakan paku atau kawat, melainkan hanya menggunakan cat sederhana agar tidak merusak jaringan kayu.

Komitmen lingkungan ini sebelumnya telah membuahkan penghargaan Green Gold dalam Indonesian Sustainable Tourism Awards pada tahun 2019. Kini, strategi pengembangan wisata di Bukit Peramun mulai bergeser dari kunjungan massal menjadi berbasis komunitas.

Ketua Air Selumar Community Fahri Rizaldi menyatakan bahwa meskipun jumlah wisatawan menurun sejak pandemi, pendapatan justru mengalami kenaikan signifikan. Nilai pendapatan dilaporkan melonjak sekitar 60 hingga 70 persen karena paket wisata yang ditawarkan lebih berkualitas.

"Waktu pariwisata massal dulu 2018-2019 ketika Bukit Peramun naik, itu sekitar 200.000 dalam satu tahun. Nah kalau sekarang kita cuma perlu 1.000 orang, 2.000 orang, itu sudah cukup," ungkapnya.

Paket wisata yang tersedia cukup beragam, mulai dari biaya trekking sebesar Rp 50.000 hingga paket pengalaman lengkap senilai Rp 625.000. Tersedia juga paket makan di puncak bukit seharga Rp 150.000 per orang bagi pengunjung yang ingin bersantai usai trekking.

Saat ini, mayoritas pengunjung Bukit Peramun didominasi oleh wisatawan mancanegara yang mencapai 70 persen dari total kunjungan. Wisatawan tersebut berasal dari berbagai negara di Eropa seperti Italia, Prancis, dan Belanda, serta negara Asia seperti China, Jepang, dan Korea.

"Mancanegara itu kita ada yang dari Eropa sama Asia. Kalau Eropa itu kita tahun kemarin itu Italia yang megang (jumlah terbanyak). Dilanjutin sama Perancis, yang terakhir itu sama Belanda. Nah kalau untuk Asia, kita tahun kemarin itu China, Jepang, dan Korea," ungkapnya.

Sejak tahun 2018, PT Bank Central Asia Tbk turut memberikan dukungan pada infrastruktur digital berupa server dan domain aplikasi. Meskipun mendapat dukungan swasta, pengelolaan operasional sepenuhnya tetap dijalankan secara mandiri oleh masyarakat setempat.

Artikel terkait

Rekomendasi