Stasiun LRT Jabodebek Dukuh Atas resmi berganti nama menjadi Stasiun LRT Dukuh Atas Bank Syariah Indonesia (BSI) melalui kerja sama hak penamaan (naming rights), dilansir dari Money pada Jumat (22/5/2026).
Langkah kolaboratif antara PT Bank Syariah Indonesia Tbk dan operator transportasi publik ini bertujuan memperkuat identitas kawasan transit Dukuh Atas sebagai pusat mobilitas modern dan kawasan bisnis utama di Jakarta.
Direktur Utama PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ), Fuad Iskandar Zulkarnain Fachroeddin menjelaskan bahwa pemilihan stasiun ini sangat strategis karena menjadi titik pertemuan rute CibuburÔÇôDukuh Atas dan BekasiÔÇôDukuh Atas.
"Stasiun ini bukan hanya stasiun transit, tetapi juga destinasi utama perjalanan LRT Jabodebek. Nama Dukuh Atas Bank Syariah Indonesia akan terus terdengar dalam setiap voice announcement perjalanan kereta dari 18 stasiun yang ada," ujar Fuad Iskandar Zulkarnain Fachroeddin, Direktur Utama PT MITJ.
Menurut data hingga 20 Mei 2026, jumlah pengguna LRT Jabodebek telah menembus angka 12,4 juta pelanggan, sehingga penamaan baru ini diimplementasikan melalui pemasangan ratusan signage, totem, dan peta transportasi baru di puluhan rangkaian kereta.
Sementara itu, Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi PT Kereta Api Indonesia, I Gede Darmayusa menyatakan bahwa komersialisasi aset melalui naming rights menjadi strategi penting untuk meningkatkan pendapatan non-tiket atau non-fare box.
"Kami tidak bisa hanya mengandalkan bisnis penumpang. Banyak aset yang dapat dimaksimalkan sehingga hasil pendapatannya bisa kembali diinvestasikan untuk modernisasi sarana, prasarana, keselamatan, dan kenyamanan penumpang," kata I Gede Darmayusa, Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi PT KAI.
Pihak KAI kini memandang penumpang sebagai aset strategis yang mampu menggerakkan ekonomi di area stasiun, sehingga fungsinya digeser dari tempat transit menjadi pusat aktivitas publik.
"Kami ingin stasiun menjadi destinasi. Orang datang bukan hanya untuk naik turun kereta, tetapi juga untuk berkumpul, bekerja, hingga beraktivitas," ujar I Gede Darmayusa, Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi PT KAI.
Dari sudut pandang korporasi perbankan, Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengungkapkan alasan pemilihan lokasi ini karena posisinya sebagai hub integrasi yang menghubungkan moda LRT hingga KRL Commuter Line.
"BSI ingin hadir lebih dekat dengan masyarakat. Dukuh Atas adalah tempat orang bekerja, berkarya, dan mencari rezeki. Di situlah kami ingin Bank Syariah Indonesia hadir," ujar Anggoro Eko Cahyo, Direktur Utama BSI.
Kerja sama ini diproyeksikan memberikan keuntungan timbal balik, di mana pendapatan non-fare box akan dialokasikan kembali untuk meningkatkan efisiensi biaya serta kualitas pelayanan transportasi masyarakat.
Melalui kerja sama hak penamaan ini, BSI juga berencana memperkenalkan program tabungan emas yang secara khusus menyasar kelompok pekerja muda di perkotaan.
"Kami berharap dengan stasiun ini, banyak masyarakat yang menggunakan stasiun ini, anak-anak muda, mereka mulai menabung emas. Karena emas adalah instrumen yang kebal terhadap situasi. Saat Covid-19, saat krisis moneter, emas tetap bertahan," tegas Anggoro Eko Cahyo, Direktur Utama BSI.