Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pengembangan arkeowisata berbasis situs prasejarah di Indonesia setelah lukisan cadas nusantara diakui sebagai narasi cerita tertua di dunia oleh Guinness World Records. Peluang besar ini disampaikan dalam agenda BRIN Goes to Industry 4 di Jakarta pada Selasa (19/5/2026), sebagaimana dilansir dari Detik Travel.
Peneliti Pusat Riset Arkeologi BRIN, Adhi Agus Octaviana, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki ratusan situs gambar cadas yang tersebar di kawasan karst dengan nilai sejarah penting. Berdasarkan riset bersama lembaga internasional, manusia modern awal di Nusantara terbukti telah memiliki kemampuan seni sejak puluhan ribu tahun lalu.
"Sampai terakhir bulan Januari kemarin kita sudah publikasikan umur pertanggalan umur minimum pertanggalan gambar cadas prasejarah di Indonesia tertua dari cangkang di Leang Metanduno sekitar minimum 67.800 tahun yang lalu. Ini bukti manusia modern awal yang datang ke Nusantara," ujar Adhi Agus Octaviana, Peneliti Pusat Riset Arkeologi BRIN.
Selain itu, bukti adegan cerita prasejarah di Sulawesi Selatan juga telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Nature. Temuan tersebut mencakup bukti aktivitas penyampaian cerita serta adegan berburu tertua di dunia.
"Selain punya tadi pagi kita menerima oldest non-figurative art kita juga punya oldest naratif scene, jadi ini bukti storytelling tertua di dunia sekitar 51.000 tahun yang lalu maupun yang 48.000 tahun oldest hunting scene tertua di dunia. Dan alhamdulillah Guinness World Record sudah mengakuinya juga," ungkap Adhi Agus Octaviana, Peneliti Pusat Riset Arkeologi BRIN.
Salah satu lokasi yang potensial adalah Gua Metanduno di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang sudah dikenal sejak awal 2000-an karena lukisan cadas berwarna cokelat miliknya. Situs ini dinilai lebih mudah diakses oleh wisatawan dengan kendaraan roda empat dibandingkan situs-situs prasejarah lain yang umumnya berada di daerah terpencil.
"Situs-situs gambar cadas sebagian besar berada di tempat yang sulit diakses. Mungkin Metanduno saja ini yang gampang diakses, mobil bisa sampai ke depan situs," ujar Adhi Agus Octaviana, Peneliti Pusat Riset Arkeologi BRIN.
Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan saat akhir pekan juga tercatat di Taman Arkeologi Leang-Leang, Sulawesi Selatan, setelah hasil penelitian usianya dipublikasikan. Kendati demikian, BRIN mengingatkan bahwa tingginya aktivitas wisata membawa dampak kerentanan tersendiri bagi kelestarian seni cadas prasejarah tersebut.
"Tapi situs gambar cadas itu rentan terhadap kunjungan wisata. Jadi ada ancamannya ya tidak hanya dari global warming, kita sudah publikasikan bahwa banyak pengelupasan kulit dinding untuk gambar cadas, tapi ada juga rentan terhadap pengunjung," tegas Adhi Agus Octaviana, Peneliti Pusat Riset Arkeologi BRIN.
Faktor suhu tubuh dan uap dari pengunjung dapat mempercepat kerusakan berupa pengelupasan media lukisan pada dinding gua. Sebagai solusinya, BRIN bekerja sama dengan platform Google Arts & Culture untuk menyediakan tur virtual gratis ke puluhan situs gambar cadas Indonesia sebagai upaya konservasi digital.