BPOM Antisipasi Kenaikan Harga Obat Akibat Konflik Selat Hormuz

BPOM Antisipasi Kenaikan Harga Obat Akibat Konflik Selat Hormuz
Foto: Ilustrasi BPOM Antisipasi Kenaikan Harga Obat Akibat Konflik Selat Hormuz.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, melakukan langkah antisipasi terhadap potensi lonjakan harga obat-obatan nasional sebagai dampak ketegangan di Selat Hormuz pada Senin, 20 April 2026. Upaya mitigasi ini dilakukan guna merespons kenaikan biaya produksi dan hambatan distribusi global.

Kenaikan harga minyak dunia serta tersendatnya jalur logistik menjadi faktor utama yang memengaruhi kelancaran distribusi obat saat ini. Berdasarkan laporan dari Money, BPOM berupaya menjaga stabilitas melalui pengawasan berbasis teknologi dan optimalisasi kapasitas produksi industri farmasi dalam negeri.

"Harapan kami mudah-mudahan langkah cepat Badan POM ini bisa mengawal supaya tidak terjadi kelangkaan obat dan juga tidak terjadi peningkatan harga obat yang signifikan," jelas Ikrar di Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR RI dikutip dari Kompas.com, Senin (20/4/2026).

Lembaga pengawas ini juga memperkuat kolaborasi lintas sektoral demi memastikan ketahanan kesehatan nasional tetap terjaga di masa darurat. Sinergi tersebut bertujuan untuk memantau ketersediaan stok obat secara real-time di seluruh wilayah Indonesia.

"Melalui kolaborasi strategi lintas sektoral untuk memitigasi risiko dan menjaga ketahanan kesehatan nasional," ucapnya.

Gangguan di Selat Hormuz berdampak langsung pada pasokan bahan baku obat, meskipun Iran bukan produsen farmasi skala besar. Suplai prekursor petrokimia yang dibutuhkan untuk memproduksi bahan aktif farmasi (API) terhambat karena kapal niaga tidak dapat melintasi jalur tersebut.

"Kekurangan yang memengaruhi obat-obatan itu sendiri, bukan kemasannya, disebabkan oleh keterlambatan dalam pengiriman prekursor petrokimia yang digunakan untuk memproduksi bahan aktif farmasi (API), dan dalam beberapa kasus oleh penghentian produksi sepenuhnya," jelas Direktur Manajemen Risiko Rantai Pasokan Moody's, David Weeks dikutip dari The Guardian (2/4/2026).

Situasi memanas setelah Iran mengancam akan menutup total Selat Hormuz sebagai bentuk protes terhadap blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat. Sebanyak 23 kapal niaga dilaporkan tertahan akibat blokade yang dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC).

Di tengah ketegangan tersebut, pihak Amerika Serikat telah mengajukan proposal baru terkait pengakhiran konflik yang kini sedang dalam tahap pembahasan intensif oleh pihak-pihak terkait.

"Kami sedang melakukan percakapan yang sangat baik. Semuanya berjalan dengan sangat baik," kata Trump dikutip dari BBC, Minggu (19/4/2026).

Artikel terkait

Rekomendasi