Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) sukses menyabet penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 untuk kategori Lembaga Keuangan Pemerintah. Pengakuan prestisius ini diraih setelah melalui proses penyaringan ketat, termasuk survei nasional independen yang menjaring puluhan ribu responden di Indonesia.
Pemberian penghargaan tersebut merupakan hasil kerja sama antara Investortrust.id dan Infovesta Utama, seperti dilansir dari Investortrust. Badan pengelola saat ini bertanggung jawab penuh atas dana haji masyarakat yang telah mencapai nilai sekitar Rp180 triliun.
Amanah besar dalam pengelolaan dana publik ini ditanggapi langsung oleh manajemen lembaga. Pihak otoritas menyatakan bahwa apresiasi dari masyarakat menjadi standar tertinggi dalam menjalankan operasional lembaga keuangan negara tersebut.
"Bagi kami, yang saat ini mengelola sekitar Rp180 triliun dana haji, kepercayaan adalah amanah tertinggi," ujar Acep Riana Jayaprawira, Anggota Badan Pelaksana BPKH dalam acara Most Trusted Financial Brand Awards 2026 di Jakarta Pusat, Selasa (31/3/2026).
Manajemen juga menegaskan komitmen akuntabilitas melalui laporan audit resmi dari instansi berwenang. Transparansi keuangan dipastikan berjalan ketat demi menjamin keamanan seluruh dana jemaah yang masuk tanpa adanya penyimpangan.
"Artinya tidak ada Rp 1 pun uang haji yang hilang. Kami telah melakukan ini dan insya Allah secara aman, efisien, dan likuid," ungkap Acep Riana Jayaprawira, Anggota Badan Pelaksana BPKH.
Memasuki masa operasional tahun ke-9, tantangan profesionalisme lembaga semakin diuji oleh situasi global. Fluktuasi ekonomi serta ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah menjadi fokus utama dalam strategi pengelolaan dana ke depan.
"Penghargaan ini kami persembahkan untuk masyarakat Indonesia, terutama jemaah haji. Kami akan terus berinovasi dan menjaga kepercayaan ini," tutup Acep Riana Jayaprawira, Anggota Badan Pelaksana BPKH.
Metodologi penentuan pemenang dijelaskan secara rinci oleh pihak penyelenggara sebagai bentuk pertanggungjawaban publik. Penilaian didasarkan pada survei di 22 provinsi dengan populasi terbesar yang mencakup pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Papua.
Jajak pendapat tersebut menyasar 19.000 responden usia produktif antara 15 hingga 64 tahun secara acak melalui teknik multistage random sampling. Tingkat pengenalan merek spontan menjadi indikator utama dalam mengukur kepercayaan publik terhadap performa layanan finansial.
"Parameter yang digunakan adalah top of mind awareness, yaitu merek yang pertama kali terlintas di benak masyarakat ketika ditanya tentang produk terpercaya sesuai kategori penghargaan," jelas Wawan Hendrayana, Direktur Infovesta Utama.
Proses kurasi final menyaring ratusan merek terdaftar berdasarkan rekam jejak, aspek inovasi, mutu pelayanan, serta cara pandang masyarakat luas. Seluruh data kemudian divalidasi oleh lembaga kredibel demi menghasilkan penilaian akhir yang akurat.