BPDP Tingkatkan Literasi Sawit Generasi Muda di Bali

BPDP Tingkatkan Literasi Sawit Generasi Muda di Bali
Foto: Ilustrasi BPDP Tingkatkan Literasi Sawit Generasi Muda di Bali.

Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) berkolaborasi dengan Universitas Udayana menyelenggarakan kegiatan GenSawit 2026 di Denpasar, Bali pada Rabu, 20 Mei 2026, guna meningkatkan literasi kelapa sawit bagi generasi muda. Dilansir dari Media Indonesia, agenda ini melibatkan narasumber dari IPB University serta Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Pusat, dan dihadiri sekitar 350 mahasiswa dari sejumlah universitas di Bali.

Kepala Divisi Kerja Sama dan Kelembagaan BPDP, Aida Fitria menyatakan bahwa edukasi ini krusial untuk memperluas pemahaman mengenai kontribusi sektor perkebunan terhadap pembangunan nasional. Pihaknya mendorong mahasiswa agar berperan aktif dalam menyebarkan informasi positif dan objektif terkait industri komoditas tersebut.

"Generasi muda memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi melalui penelitian, teknologi, digitalisasi serta pengembangan gagasan yang inovatif. Mahasiswa tidak hanya diharapkan menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu membangun narasi berbasis data dan ilmu pengetahuan", ungkap Aida Fitria, Kepala Divisi Kerja Sama dan Kelembagaan BPDP.

Pandangan senada disampaikan Guru Besar IPB University, Prof. Dr. Ir. Yanto Santosa yang menyoroti pentingnya cara pandang objektif mahasiswa dalam menyikapi arus informasi digital yang bergerak cepat. Menurutnya, pemikiran kritis dan analitis sangat dibutuhkan agar masyarakat tidak terjebak dalam opini atau kampanye negatif global yang tidak didasari oleh fakta ilmiah utuh.

"Mahasiswa sebagai kalangan intelektual diharapkan mampu menjadi agen literasi publik yang menghadirkan diskusi yang sehat dan berimbang. Sikap kritis bukan berarti menolak atau menerima suatu isu secara mentah, tetapi berani menguji informasi, membandingkan sumber, memahami konteks, dan mencari solusi yang konstruktif. Pendekatan berbasis data akan membantu generasi muda melihat persoalan secara lebih adil dan tidak terjebak dalam polarisasi opini. Selain itu, generasi muda juga perlu memahami bahwa tantangan keberlanjutan adalah tanggung jawab bersama. Industri sawit harus terus didorong menjadi lebih berkelanjutan, transparan, dan ramah lingkungan, namun kritik terhadap sawit juga harus disampaikan secara objektif dan proporsional," ujar Prof. Dr. Ir. Yanto Santosa, Guru Besar IPB University.

Yanto menambahkan bahwa pendekatan berbasis data ilmiah juga berguna dalam memperlihatkan kontribusi nyata kelapa sawit pada aspek sosial ekonomi, khususnya sebagai penopang hidup jutaan tenaga kerja dan petani kecil. Kolaborasi internasional serta publikasi riset antaruniversitas dipandang mampu menghadirkan perspektif yang berimbang di tingkat global.

"Dengan cara pandang seperti ini, generasi muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga menjadi bagian dari solusi melalui gagasan, inovasi, dan kontribusi nyata bagi masa depan Indonesia. Pada akhirnya, bangsa yang maju membutuhkan generasi yang tidak mudah terpengaruh oleh narasi tanpa dasar, melainkan mampu berdiri di atas data, ilmu pengetahuan, dan integritas intelektual. Dengan sikap tersebut, generasi muda dapat berperan aktif menjaga kepentingan nasional sekaligus mendorong terciptanya industri sawit Indonesia yang semakin berdaya saing dan berkelanjutan di tingkat global," lanjut Prof. Dr. Ir. Yanto Santosa, Guru Besar IPB University.

Sementara itu, Head of International Relation dan Pengembangan SDM DPP Apkasindo, Djono A. Burhan memaparkan peran masif para petani yang mencakup 41 persen atau sekitar 16 juta jiwa di Indonesia. Ia mencontohkan kontribusi industri ini terhadap sektor pariwisata di Bali melalui ketersediaan bahan baku produk hotel yang menggunakan Elaeis Guineensis Oil.

"Petani kelapa sawit juga sudah bergerak ke generasi kedua bahwa sudah semakin aware terhadap informasi, teknologi, dimana petani kelapa sawit mendorong intensifikasi atau peningkatan produktivitas dari lahan sawit yang ada. Sehingga petani kelapa sawit menggunakan bibit yang berkualitas sehingga bisa menjadi sumber penghidupan bagi keluarga petani kelapa sawit paling tidak minimal hingga 25 tahun ke depan," kata Djono A. Burhan, Head of International Relation dan Pengembangan SDM DPP Apkasindo.

Artikel terkait

Rekomendasi