Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menetapkan lima kelurahan sebagai wilayah dengan potensi kebakaran paling tinggi pada masa pancaroba ini. Pemetaan tersebut didasarkan pada tinjauan terhadap kawasan dengan pemukiman padat penduduk dan keterbatasan akses pemadaman api.
Dilansir dari Megapolitan, data statistik selama lima tahun terakhir menunjukkan titik rawan terkonsentrasi di Jakarta Barat, tepatnya di Kelurahan Kapuk, Cengkareng Timur, dan Pegadungan. Selain itu, Kelurahan Penjaringan di Jakarta Utara serta Pulo Gebang di Jakarta Timur turut masuk dalam daftar tersebut.
Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta memaparkan bahwa riwayat laporan bencana menjadi dasar utama penentuan lokasi-lokasi tersebut pada Jumat (24/4/2026).
"Selama lima tahun, lima kelurahan ini yang paling sering dilaporkan mengalami kebakaran," kata Yohan dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026).
Identifikasi faktor risiko menunjukkan adanya kemiripan karakteristik di kelima wilayah, seperti penggunaan kabel non-SNI dan beban listrik berlebih. Masalah kelistrikan tercatat sebagai pemicu utama sebagian besar kasus kebakaran yang terjadi di Jakarta.
"Ketiadaan jarak antar bangunan membuat fire spread atau perambatan api sulit dikendalikan," tambah Yohan.
Kepadatan bangunan yang didominasi material semi permanen seperti kayu dan triplek turut mempercepat penyebaran api di pemukiman. Kendala lain yang ditemukan di lapangan adalah sulitnya armada pemadam masuk ke lokasi karena akses jalan yang berupa gang sempit.
"Banyak titik di kelurahan tersebut yang sulit ditembus oleh mobil pompa besar, sehingga penanganan awal sering terlambat," kata Yohan.
Kondisi lingkungan yang padat juga berdampak pada sulitnya masyarakat mendapatkan akses sumber air saat mencoba melakukan pemadaman mandiri. Hingga saat ini, BPBD terus mengimbau warga di lokasi rawan untuk lebih waspada terhadap penggunaan alat elektronik harian.