BNI Jaga Stabilitas Keuangan Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global

BNI Jaga Stabilitas Keuangan Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global
Foto: Ilustrasi BNI Jaga Stabilitas Keuangan Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas keuangan sebagai strategi utama menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Langkah penguatan fondasi ini dilakukan guna memastikan keberlanjutan bisnis perusahaan di masa depan, dilansir dari Investortrust pada Senin (23/2/2026).

Manajemen bank berlogo angka 46 tersebut kini juga tengah meningkatkan kapabilitas global dengan memperkuat jaringan internasional. Upaya ini diarahkan untuk mendukung aktivitas perdagangan luar negeri sekaligus mengoptimalkan pelayanan bagi diaspora Indonesia di berbagai negara.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menjelaskan bahwa dalam lanskap ekonomi saat ini, situasi ketidakpastian menjadi realitas yang harus dihadapi lewat ketenangan serta arah kebijakan yang jelas.

"Stabilitas keuangan kami jaga dengan cara kami membangun sebuah fondasi yang kuat bagi perusahaan ini untuk dapat tumbuh ke depan dan menghadapi tantangan-tantangan di tengah ketidakpastian ini," ujar Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama BNI.

Pertumbuhan internal perseroan didorong melalui inisiatif transformasi bernama "BRAVE" yang merupakan akronim dari Branch, Region, Area, Value, dan Empowerment. Strategi tersebut menitikberatkan pada pemberdayaan lini terdepan perusahaan agar mampu memenangkan persaingan pasar.

"Jadi, singkatan kepanjangan dari BRAVE ini adalah pada prinsipnya, pada intinya adalah bagaimana kami memberikan pemberdayaan, memberikan value kepada kantor cabang kami, kepada area kami, kepada kantor wilayah kami. Karena di sanalah sebetulnya terjadi pertempuran yang sebenarnya untuk memperebutkan market share atau pangsa pasar," kata Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama BNI.

Selain itu, perusahaan memperkuat lini wholesale banking berbasis ekosistem dengan mengintegrasikan korporasi besar bersama rantai nilainya dari distributor hingga UMKM. Model pembiayaan terstruktur ini diharapkan menciptakan pertumbuhan seimbang pada segmen wholesale, enterprise banking, komersial, dan UMKM.

"Beserta hal tersebut, kami tentunya sebagai bank negara memiliki peran yang strategis juga di dalam mendukung pembangunan nasional sekaligus sekali lagi dalam menjaga stabilitas sistem keuangan," ucap Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama BNI.

Momentum transformasi ini bertepatan dengan rencana perayaan ulang tahun BNI yang ke-80 pada 5 Juli 2026 mendatang. Putrama merefleksikan usia delapan dekade tersebut sebagai bukti ketangguhan perseroan dalam melewati krisis ekonomi dan disrupsi teknologi.

"Dan rasanya tidak semua institusi mampu untuk melewati fase tersebut dengan tetap mendapatkan kepercayaan dari masyarakat," kata Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama BNI.

Kepercayaan publik yang terjaga dinilai tidak lepas dari kompas nilai konsisten perusahaan, yaitu "Swadharma Bhakti Nagara". Nilai ini mencakup kesadaran tanggung jawab profesional (Swadharma), pengabdian demi kemanfaatan luas (Bhakti), dan orientasi demi kepentingan bangsa (Nagara).

"Nilai-nilai inilah yang menjaga BNI untuk dapat tetap kokoh di tengah tekanan zaman, di mana strategi boleh berubah, model bisnis boleh berevolusi, namun kompas pengambilan keputusan dan nilai-nilainya tetap sama, yaitu Swadharma Bhakti Nagara," kata Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama BNI.

Falsafah tersebut selanjutnya diimplementasikan ke dalam tiga perilaku organisasi yang relevan dengan perkembangan zaman saat ini, yakni Sefa (the way we serve), Karya (the way we perform), dan Raksa (the way we protect).

"Sefa adalah the way we serve, melayani sepenuh hati dengan empati dan tanggung jawab. Karena hubungan bank dengan nasabah dibangun atas dasar sebuah kepercayaan. Kemudian Karya adalah the way we perform, berdaya secara profesional, agile, dan tuntas dalam eksekusi. Karena kinerja adalah bukti, bukan sekadar janji. Dan yang terakhir adalah Raksa. Raksa adalah the way we protect, menjaga amanah melalui integritas dan kesadaran risiko," ujar Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama BNI.

Manajemen juga menekankan bahwa stabilitas keuangan turut dibentuk oleh persepsi, narasi, dan tingkat kepercayaan publik, bukan hanya terpaku pada rasio angka prudensial semata.

"Bahwa stabilitas keuangan tidak hanya dibangun dari sebuah rasio-rasio prudensial, namun juga dibentuk oleh sebuah persepsi, oleh narasi, dan tingkat kepercayaan publik," ujar Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama BNI.

Kepercayaan dari ekosistem perbankan diakui lahir dari konsistensi antara nilai, tindakan, dan pikiran serta komitmen menjaga integritas dalam situasi yang tidak mudah.

"Dan juga komitmen suatu perannya adalah menjaga integritas, bahkan ketika situasi yang kita hadapi sedang tidak mudah. Memasuki usia 80 tahun BNI, komitmen BNI sederhana, namun tegas menjaga fundamental, merawat kepercayaan, dan bertumbuh dengan nilai yang sama seperti saat BNI didirikan. Selama kepercayaan itu dapat dijaga antara institusi, regulator, pelaku usaha, dan media, kami optimis sistem keuangan Indonesia akan tetap resilien dan mampu menata masa depan dengan benar," kata Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama BNI.

Artikel terkait

Rekomendasi