PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BNI berhasil membukukan laba bersih konsolidasian senilai Rp5,69 triliun pada kuartal I/2026, yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 4,70 persen secara tahunan. Capaian positif ini dilansir dari Finansial bersumber dari laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan pada Rabu, 29 April 2026.
Pertumbuhan laba tersebut didorong oleh performa pendapatan bunga bersih yang mencapai Rp11,14 triliun, atau meningkat 12,87 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan bunga secara keseluruhan tumbuh 13,62 persen menjadi Rp18,99 triliun meski beban bunga juga naik 15,91 persen.
Sektor pendapatan berbasis komisi turut memberikan kontribusi dengan kenaikan provisi dan administrasi sebesar 8,92 persen menjadi Rp2,65 triliun. Selain itu, keuntungan dari penjualan aset keuangan melonjak 21,20 persen menjadi Rp704,86 miliar, sementara laba entitas asosiasi meningkat 10,25 persen.
Meskipun pendapatan tumbuh, BNI mencatatkan kenaikan beban operasional, termasuk beban tenaga kerja yang naik 15,57 persen menjadi Rp3,76 triliun. Beban penurunan nilai atau impairment juga mengalami pertumbuhan sebesar 26,53 persen menjadi Rp2,01 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) menunjukkan performa kuat dengan pertumbuhan dana murah (CASA) sebesar 26,6 persen menjadi Rp731,6 triliun. Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan giro sebesar 39,7 persen dan tabungan yang naik 10,4 persen secara tahunan.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menjelaskan bahwa kinerja keuangan perseroan tumbuh seimbang didukung oleh basis dana murah yang semakin solid. Menurutnya, pendanaan yang kuat menjadi penggerak bagi ekspansi kredit sekaligus menjaga efisiensi biaya dana di tengah persaingan pasar.
"Kinerja ini menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi, dan pengelolaan risiko yang disiplin,ÔÇØ tutur Paolo, Direktur Finance & Strategy BNI.
Paolo juga memaparkan langkah strategis perusahaan dalam memperkuat struktur permodalan melalui instrumen Additional Tier-1 (AT1) senilai USD700 juta yang diterbitkan pada April 2026. Penerbitan ini mendapatkan permintaan hingga USD2,5 miliar atau mengalami oversubscribe sebanyak 3,6 kali.
Kualitas aset BNI tercatat membaik dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) di level 1,9 persen dan Loan at Risk sebesar 8,6 persen. Fundamental keuangan tetap kokoh dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 83,5 persen dan rasio kecukupan modal sebesar 18,5 persen.