Aset kripto Bitcoin (BTC) mencatatkan kenaikan sebesar 1,43 persen dan bertengger di level US$ 67.643 pada penutupan kuartal pertama, tepatnya 30 Maret 2026 pukul 15.55 WIB. Dilansir dari Investortrust, pergerakan ini terjadi setelah harga sempat menyentuh level dukungan atau support di angka US$ 65.000.
Dominasi pasar Bitcoin saat ini berada di level 58,90 persen, sementara total kapitalisasi pasar aset kripto secara keseluruhan tumbuh 1,45 persen mencapai US$ 2,34 triliun. Meskipun mengalami pertumbuhan, pasar kripto tetap menghadapi tantangan besar dari kondisi ekonomi dan geopolitik global.
Financial Expert Ajaib, Panji Yudha, menjelaskan bahwa Bitcoin resmi menyentuh level support US$ 65.000 pada pukul 05.00 WIB akibat pengaruh inflasi energi dan ketegangan di Timur Tengah. Eskalasi konflik tersebut telah mendorong harga minyak mentah melampaui US$ 100 per barel.
"Eskalasi konflik Timur Tengah mendorong harga minyak keatas US$ 100, mengubah ekspektasi pasar dari pemangkasan bunga menjadi potensi kenaikan suku bunga (rate hike). Akibatnya, yield obligasi AS melonjak ke 4,07% dan membuat Bitcoin kehilangan daya tarik dibandingkan aset safe haven tradisional," ujar Panji Yudha.
Berdasarkan data SosoValue, sentimen institusional mengalami titik balik pada pekan yang berakhir 27 Maret 2026 dengan catatan arus keluar bersih (net outflow) senilai US$ 296,18 juta. Angka ini memutus tren positif arus kas masuk yang sebelumnya bertahan selama empat minggu berturut-turut.
Kondisi tersebut menyebabkan total aset bersih tergerus dari US$ 90,30 miliar menjadi US$ 84,77 miliar. Di tengah ketidakpastian ini, MicroStrategy (MSTR) dilaporkan absen menambah kepemilikan Bitcoin, yang memperkuat sinyal kehati-hatian pihak institusi.
Sementara itu, proyek World yang dipimpin CEO OpenAI, Sam Altman, telah merampungkan penjualan OTC sebanyak 239 juta token WLD senilai US$ 65 juta. Penjualan ini dilakukan dengan harga rata-rata US$ 0,2719 per koin, di mana sebagian senilai US$ 25 juta dikenakan masa penguncian selama enam bulan.
"Hari ini, Bitcoin berpotensi bergerak di rentang harga US$ 65.000 hingga US$ 68.000. Ethereum berpotensi bergerak di sekitar US$ 1.950 hingga US$ 2.200," kata Panji Yudha dalam risetnya.
Di sisi lain, Ethereum (ETH) juga mengalami koreksi 4,4 persen ke level US$ 2.070. Token utama lainnya seperti Ripple (XRP) dan Solana (SOL) turut mencatat penurunan antara 2 hingga 5 persen akibat ketidakpastian yang dipicu penolakan Presiden Trump terhadap kesepakatan damai dengan Iran.
Gejolak ini merembet ke pasar saham global dengan penurunan indeks S&P 500 sebesar 1,7 persen dan Nasdaq yang anjlok lebih dari 2,3 persen. Harga minyak mentah Brent melonjak 5 persen ke level US$ 107 per barel, menambah beban risiko bagi aset volatil.
Kepala Riset Grayscale, Zach Pandl, berpendapat bahwa kondisi pasar saat ini belum bisa dikategorikan sebagai fase crypto winter. Ia menekankan bahwa minat investor institusi terhadap Bitcoin tetap tinggi meskipun sentimen di media sosial cenderung negatif.
James Butterfill, Kepala Riset CoinShares, menambahkan adanya pola siklus di mana tekanan jual biasanya mereda setelah enam bulan. Ia memperkirakan potensi pemulihan harga Bitcoin menuju level US$ 80.000 dapat terjadi antara bulan April hingga Mei mendatang.
Sebagai langkah antisipasi, perusahaan seperti GameStop mulai menerapkan strategi manajemen risiko yang konservatif. Mereka mengalihkan sebagian besar aset Bitcoin miliknya ke Coinbase menggunakan strategi covered call untuk membatasi potensi kerugian di tengah fluktuasi harga yang ekstrem.