BPJS Kesehatan melaporkan lonjakan beban pembiayaan gagal ginjal di Indonesia yang mencapai Rp 13,38 triliun pada Rabu, 15 April 2026, akibat peningkatan kasus yang signifikan secara nasional. Angka ini menunjukkan kenaikan drastis hingga 400 persen jika dibandingkan dengan beban biaya pada tahun 2019 yang hanya sebesar Rp 2,32 triliun.
Data yang dilansir dari Detik Health menunjukkan bahwa posisi gagal ginjal telah menggeser kanker dalam urutan beban biaya kesehatan terbesar di Indonesia. Pada tahun 2024, gagal ginjal berada di peringkat keempat dengan biaya Rp 2,76 triliun dari 1,44 juta kasus, namun setahun kemudian angkanya membengkak menjadi Rp 13 triliun dengan 12,68 juta kasus.
Kondisi di Indonesia ini hampir setara dengan pengeluaran tahunan Malaysia untuk pengobatan penyakit ginjal stadium akhir yang menghabiskan sekitar Rp 14,22 triliun. Meski jantung masih menjadi penyedot anggaran tertinggi sebesar Rp 17 triliun, tren kenaikan kasus gagal ginjal menjadi perhatian utama otoritas kesehatan karena peningkatannya yang sangat tajam.
Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito memberikan penegasan bahwa pemicu utama kondisi ini adalah komplikasi dari penyakit tidak menular. Pemerintah kini mulai mengalihkan fokus pada pendekatan preventif, termasuk kebijakan Nutri Level pada pangan siap saji guna menekan angka pengidap penyakit gula.
"Concern kita yang utama di diabetes melitus dan hipertensi. Itu yang akan kita kejar dengan pendekatan promotif dan preventif sehingga dalam jangka panjang akan sangat-sangat menurunkan pembiayaan kesehatan," tutur Prihati Pujowaskito, Direktur Utama BPJS Kesehatan.
Kementerian Kesehatan turut menyoroti bahwa penderita gagal ginjal kronis sangat bergantung pada prosedur hemodialisa atau cuci darah untuk bertahan hidup. Prosedur ini krusial untuk membuang racun seperti ureum dan kreatinin serta menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh pasien.
"Jadi memang hati-hati, ginjal itu seperti silent killer dan awalnya kenapa orang bisa sakit ginjal? Dia punya hipertensi dan penyakit gula (diabetes melitus) yang tidak terkendali, sehingga pasti akan terganggu dengan ginjalnya," kata Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI.
Nadia menambahkan bahwa tingginya pembiayaan menjadi indikator nyata atas banyaknya jumlah kasus yang terjadi di tengah masyarakat saat ini. Kewaspadaan terhadap konsumsi makanan dengan kadar gula, garam, dan lemak yang tinggi menjadi faktor kunci dalam pencegahan penyakit tersebut.
"Itu (penyakit gagal ginjal) peningkatannya paling tinggi dibandingkan lainnya dari sisi pembiayaan, berarti kan jumlah kasusnya banyak," sambung Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI.