Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyiapkan tujuh langkah strategis guna memperkuat nilai tukar rupiah yang dinilai sedang berada dalam kondisi undervalue pada Selasa (5/5/2026). Strategi ini ditujukan untuk merespons tekanan nilai tukar akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kondisi ekonomi nasional sebenarnya tetap solid dengan pertumbuhan Kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen dan inflasi terkendali pada level 2,42 persen. Namun, dilansir dari Money, nilai tukar rupiah tercatat melemah 3,65 persen sejak ketegangan global meningkat hingga mencapai level Rp 17.424 per dollar AS.
"Nilai tukar sekarang itu undervalue. Undervalue dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat. Kenapa undervalue? Fundamental kita itu kuat," ujar Perry, Gubernur Bank Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto telah memberikan restu atas kebijakan yang diambil bank sentral untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda tersebut di masa mendatang.
"Kami melapor kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden merestui dan kemudian memberikan suatu penguatan-penguatan tujuh langkah penting yang ditempuh BI untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah itu stabil ke depan," ucap Perry, Gubernur Bank Indonesia.
Langkah pertama melibatkan intervensi pasar valuta asing secara langsung, baik melalui transaksi spot maupun instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). BI juga mengoptimalkan aliran modal masuk melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menahan arus modal keluar.
"Itu koordinasi kami dengan Pak Menteri Keuangan sehingga betul-betul menjaga inflow-nya dari portofolio asing itu masih year to date-nya masih terjadi inflow dan itu memperkuat nilai tukar rupiah," kata Perry, Gubernur Bank Indonesia.
Sinergi kebijakan fiskal dan moneter juga dilakukan dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder yang hingga kini realisasinya menembus angka Rp 123,1 triliun. Selain itu, BI menurunkan batas pembelian valas tanpa underlying transaksi dari 100.000 dollar AS menjadi 25.000 dollar AS secara bertahap.
"Termasuk di dalam negeri itu adalah pasar Chinese Yuan dengan Rupiah sudah berkembang di dalam negeri. Karena local currency kita dengan Yuan China sama rupiah itu sangat tinggi dan sekarang sudah mulai terbentuk pasar domestik Yuan sama Rupiah termasuk ini local currency sehingga itu mengurangi atau melakukan diversifikasi dari dollar sehingga itu bisa memperkuat," tambah Perry, Gubernur Bank Indonesia.
Pengawasan ketat terhadap perbankan dan korporasi yang memiliki permintaan dollar AS tinggi menjadi poin terakhir dalam strategi ini. BI menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna memastikan sistem keuangan tetap terjaga meski di tengah tekanan global.
"Kami kirim pengawas ke sana (perbankan dan korporasi), koordinasi dengan Bu Frederica Widyasari dari Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga," tutur Perry, Gubernur Bank Indonesia.