BI Prediksi Nilai Tukar Rupiah Menguat Juli Hingga Agustus

BI Prediksi Nilai Tukar Rupiah Menguat Juli Hingga Agustus
Foto: Ilustrasi BI Prediksi Nilai Tukar Rupiah Menguat Juli Hingga Agustus.

Bank Indonesia (BI) meyakini nilai tukar rupiah akan kembali stabil bahkan berpotensi menguat pada JuliÔÇôAgustus 2026. Langkah ini ditempuh melalui penguatan suku bunga acuan dan instrumen moneter untuk meredam tekanan global serta menjaga aliran modal asing ke pasar domestik.

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan pelemahan rupiah yang terjadi belakangan lebih dipengaruhi kombinasi tekanan eksternal dan faktor musiman domestik dibandingkan persoalan fundamental ekonomi nasional, seperti dikutip dari Media Indonesia.

Menurut Perry, secara fundamental nilai tukar rupiah seharusnya memiliki ruang penguatan didukung defisit transaksi berjalan yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, inflasi yang terkendali, serta berbagai indikator ekonomi makro yang dinilai kuat.

"Saya sering mengatakan ada dua faktor utama yang memberikan tekanan pada pelemahan rupiah, satu adalah gejolak global yang betul-betul sulit diprediksi," kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (20/5).

Ia menjelaskan tekanan global dipicu rentetan ketidakpastian mulai dari kebijakan tarif internasional hingga eskalasi perang di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia, perlambatan pertumbuhan global, peningkatan inflasi, tingginya suku bunga global termasuk Fed Fund Rate, naiknya imbal hasil US Treasury, serta penguatan dolar AS.

Kondisi tersebut memberikan tekanan terhadap mata uang berbagai negara, termasuk Indonesia. Di saat bersamaan, faktor musiman domestik juga meningkatkan kebutuhan valuta asing selama April hingga Juni.

Perry menjelaskan pada periode tersebut terdapat peningkatan kebutuhan valas untuk ibadah haji dan umrah, pembayaran bunga dan pokok utang luar negeri, hingga pembagian dividen korporasi yang mendorong kenaikan permintaan dolar di pasar domestik.

"Di tengah kondisi global yang menyebabkan capital outflow, kebutuhan valas domestik juga meningkat hingga Juni," tuturnya.

Untuk meredam tekanan tersebut, BI meningkatkan intensitas intervensi pasar valas baik di dalam negeri maupun pasar offshore melalui instrumen non-deliverable forward (NDF). Langkah tersebut turut diikuti penyesuaian suku bunga instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Perry mengungkapkan kenaikan suku bunga SRBI dalam dua bulan terakhir berhasil membalikkan arus modal yang sebelumnya keluar pada triwulan I menjadi kembali masuk ke pasar keuangan domestik.

"Kami juga telah menaikkan suku bunga SRBI dan itu berhasil mendorong portfolio inflow yang semula terjadi outflow menjadi inflow," katanya.

Menurut dia, keputusan BI menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% akan memperkuat stabilisasi rupiah melalui kombinasi intervensi pasar, penyesuaian struktur suku bunga SRBI, serta menjaga daya tarik aset keuangan domestik.

BI memperkirakan kebutuhan valas domestik akan mulai menurun setelah Juni sehingga tekanan terhadap rupiah diperkirakan mereda.

"Kalau kita melihat histori, rupiah memang mendapat tekanan pada April, Mei, dan Juni, tetapi akan menguat pada Juli dan Agustus. Kami meyakini rupiah akan stabil dan cenderung menguat ke depan," tegas Perry.

Artikel terkait

Rekomendasi