Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa cadangan devisa negara saat ini berada dalam posisi yang sangat aman. Dilansir dari Suara, pasokan valuta asing tersebut dinilai lebih dari cukup untuk melakukan intervensi di pasar guna menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa otoritas moneter kini mengantongi cadangan devisa sebesar USD 114 miliar. Guna menjaga stabilitas mata uang, BI juga telah meningkatkan intensitas intervensi di pasar spot, lindung nilai, hingga forward.
Perry menjamin bahwa jumlah tersebut masih berada di atas standar Assessing Reserve Adequacy (ARA) yang ditetapkan oleh Dana Moneter Internasional (IMF).
"Jadi, kami pastikan cadangan devisa lebih dari cukup," ujar Perry dalam Rapat Kerja dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin (18/5/2026).
"Cadangan devisa lebih dari USD 100 miliar. Masih lebih dari cukup, sehingga dosis intervensinya kami naikkan," imbuh dia.
Langkah intervensi di pasar valuta asing menjadi salah satu instrumen utama BI dalam mengawal pergerakan rupiah. Selain itu, BI juga menaikkan tingkat imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi 6,41 persen demi memicu penanaman modal asing ke dalam negeri.
Perry mengklaim instrumen SRBI tersebut berjalan efektif. Hal ini dibuktikan dengan masuknya aliran modal bersih ke instrumen tersebut yang menyentuh angka USD 105,16 miliar secara tahun kalender hingga 18 Mei 2026.
"Kenapa kami meningkatkan bunga SRBI? Supaya net inflow masih terjadi. Alhamdulillah itu mencatat inflow, sehingga menambah pasokan valas di dalam negeri," tambahnya.
Strategi lain yang diterapkan BI adalah memperluas penggunaan transaksi yuan-rupiah di pasar domestik. Upaya ini dilakukan secara terukur guna menekan tingkat ketergantungan pasar terhadap mata uang dolar AS.
Kebijakan pengetatan juga akan diberlakukan dengan memotong batas pembelian dolar AS tunai tanpa underlying. Aturan baru yang berlaku mulai Juni mendatang ini memangkas batas pembelian dari USD 50 ribu menjadi USD 25 ribu per pelaku per bulan.
"Hal ini kami lakukan supaya yang beli dolar AS adalah yang betul-betul membutuhkan," pungkas Perry.