Bank Indonesia Optimistis Target Pertumbuhan Kredit Perbankan 2026 Tercapai

Bank Indonesia Optimistis Target Pertumbuhan Kredit Perbankan 2026 Tercapai
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Optimistis Target Pertumbuhan Kredit Perbankan 2026 Tercapai.

Bank Indonesia memproyeksikan penyaluran kredit perbankan nasional tetap terjaga pada target 8 persen hingga 12 persen meski terdapat peningkatan daya tarik instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, dilansir dari Keuangan pada Jumat (22/5/2026).

Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Dhaha P. Kuantan memberikan penjelasan mengenai proyeksi tersebut dalam kegiatan Pelatihan Wartawan di Makassar. Saat ini kondisi likuiditas perbankan dilaporkan masih memadai dengan pertumbuhan dana pihak ketiga mencapai 11,4 persen secara tahunan, sementara pertumbuhan kredit berada di angka 9,98 persen secara tahunan.

"Dengan figur yang seperti itu saya masih melihat target pertumbuhan kredit 8%-12% itu masih visible untuk bisa tercapai," ujar Dhaha, Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia.

Pihak Bank Indonesia akan terus melakukan pemantauan terhadap dinamika ekonomi ke depan, termasuk opsi melakukan revisi Rencana Bisnis Bank jika kondisi membutuhkan. Manajemen risiko likuiditas bank diperkirakan tidak akan dialihkan seluruhnya ke instrumen moneter karena adanya potensi kehilangan insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial.

"Kalau mereka switch signifikan ke SRBI, sementara kreditnya turun, berarti mereka tidak mendapatkan insentif KLM. Itu jadi trade off bagi bank," kata Dhaha, Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia.

Skema insentif tersebut dirancang untuk menjaga keseimbangan antara penempatan dana pada instrumen moneter dan penyaluran ke sektor riil. Evaluasi insentif juga mempertimbangkan tingkat suku bunga kredit yang dipatok oleh perbankan agar tidak membebani permintaan pembiayaan secara berlebihan.

"Kalau kenaikan suku bunga kredit terlalu tinggi dan deviasinya jauh dari BI Rate, tentunya insentifnya akan berkurang atau bahkan tidak mendapatkan insentif," ujar Dhaha, Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia.

Kombinasi kebijakan melalui jalur pendanaan maupun jalur suku bunga diharapkan mampu memotivasi perbankan untuk tetap menjaga laju penyaluran modal usaha. Hal ini menjadi instrumen penyeimbang bagi pengelolaan likuiditas perbankan nasional.

"Harapannya bank tetap balancing antara SRBI and kredit karena ada insentif yang besar dari KLM," imbuh Dhaha, Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi